NGALAP BERKAH

Buletin As-Sunnah Mojokerto Edisi-II tahun ke-II Januari 2010-1

Oleh Ahmad Faiz bin Asifuddin

Ngalap (mencari) berkah merupakan kecenderungan manusiawi semenjak nenek moyang manusia generasi pertama. Bahkan berkah adalah kebutuhan setiap insan. Demam ngalap berkah menjadi trend turun temurun disemua lapisan penduduk bumi hingga kini, di zaman modern yang super canggih dan hubungan lintas dunia semakin global. Adakah ajaran Islam sejalan dengan arus tradisi ini dan memperkenankan orang ngalap berkah?

Pengertian Berkah

Berkah berasal dari bahasa Arab ‘barakah‘. Artinya, memiliki banyak kebaikan dan bersifat tetap -terus menerus-. Diambil dari kata ‘birkah‘ yang berarti tempat berhimpunnya air. Dan itu berbeda dengan tempat mengalirnya air karena dua hal : jumlahnya yang banyak dan sifatnya yang tetap. Sementara ada juga yang mengatakan, barakah/berkah ialah adanya kebaikan ilahi secara tetap pada sesuatu. Demikian yang dikatakan oleh ar-Raghib al-Ashfahani. Dengan demikian, apabila sesuatu dikatakan berkah, artinya sesuatu itu memiliki banyak kebaikan yang bersifat tetap, karena dijadikan demikian oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan ngalap / mencari berkah, berarti mencari kebaikan atau manfaat melalui sesuatu yang diduga banyak memiliki berkah. Sesuatu itu bisa berbentuk pribadi manusia, benda, tempat atau waktu. Persoalannya, bisakah kegiatan tersebut dibenarkan oleh Islam?.

Hukum mencari berkah

Seperti dikatakan di atas, mencari berkah bisa melalui pribadi manusia, benda, waktu atau tempat tertentu. Dalam hal ini ada yang disyari’atkan, ada pula yang dilarang.  Mengapa dikatakan disyari’atkan?. Sebab, pribadi, benda, tempat atau waktu yang dicari berkahnya, benar-benar memiliki berkah berdasarkan ketetapan syari’at, dan dalilnya jelas. Hal itu menuntut cara pencarian berkah yang juga harus sesuai dengan tuntutan syari’at. Di sisi lain, mengapa ada bentuk mencari berkah yang dilarang?. Sebab, pribadi, benda, tempat atau waktu yang dicari berkahnya ternyata merupakan pribadi, benda, tempat dan waktu yang tidak dinyatakan memiliki berkah oleh syari’at. Berkah-berkah yang dianggap ada pada benda-benda ini hanya ilusi kosong hasil rekayasa para kaki tangan Dajjal. Cara mencari berkah yang dilakukannyapun adalah cara-cara bathil dan menyimpang.

  1. Mencari Berkah yang disyari’atkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Seorang tokoh Ulama Ahlus Sunnah zaman sekarang) menjelaskan: Mencari berkah tidak terlepas dari dua hal :                            1 – Mencari berkah berdasarkan ketentuan syar’i yang jelas. Misalnya (mencari berkah) pada al-Qur’an al-Karim. Allah berfirman : Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah (Shad : 29). Di antara berkahnya al-Qur’an, siapa yang berpegang dengan al-Qur’an, ia akan memperoleh kemenangan. Dengan al-Qur’an-lah, Allah telah menyelamatkan banyak umat manusia dari kemusyrikan. Di antara berkahnya lagi ialah, tiap satu huruf al-Qur’an memiliki kelipatan sepuluh kali kebaikan jika dibaca. Ini jelas meringankan waktu dan usaha manusia. Dan masih banyak berkah-berkah al-Qur’an lainnya.

2 – Mencari berkah berdasarkan perkara nyata dan jelas serta bisa diraba dengan indra.
Misalnya mencari ilmu pada Ulama atau minta didoakan atau yang lainnya. Ulama bisa dicari berkahnya melalui penggalian terhadap ilmu agama yang dimilikinya, atau melalui nasihat serta dakwah yang dilakukannya. Jadi ulama itu berkah, sebab orang dapat meraih kebaikan yang banyak dengan kehadiran mereka. Tetapi mencari berkah melalui al-Qur’an atau ulama, tidak boleh menggunakan cara-cara yang tidak berdasarkan tuntunan syari’at. Misalnya dengan menciumi, mengusap-usap, atau memeluk al-Qur’an supaya mendapat berkah. Ini salah. Atau dengan meminum atau menyimpan sisa air wudhu’ ulama, atau dengan menciumi lututnya. Inipun jelas bathil. Apalagi mencium lutut ulama, bisa menyebabkan syirik, karena harus bersujud atau ruku’ kepada selain Allah.                    Yang jelas, berkah semuanya hanyalah milik Allah dan berasal dari Allah. Seperti halnya rizki, pertolongan, dan keselamatan, juga hanyalah milik Allah dan berasal dari Allah.                 Oleh karena itu berkah tidak boleh diminta kecuali dari Allah saja. Dia-lah Pemberi berkah. Imam Bukhari telah meriwayatkan -dengan sanadnya- dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : “Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, ternyata persediaan air semakin sedikit. Maka beliau bersabda : ‘Carilah sisa air’. Lalu kamipun datang membawa bejana yang berisi sedikit air. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengatakan : “Marilah menggunakan air suci yang diberkahi. Dan sesungguhnya berkah (hanya) berasal dari Allah”. Sungguh aku melihat air memancar dari celah-celah jari jemari Rasulullah -al-hadits. (HSR. Al-Bukhari, Fathul Bari VI/433)            Segala sesuatu yang dinyatakan oleh syari’at mengandung berkah, tidak lain hanya merupakan sebab bagi diperolehnya berkah, bukan sebagai pemberi. Bisa saja berkah itu tidak dapat diperoleh karena hilangnya syarat tertentu atau adanya penghalang tertentu    Dan itu sudah dimaklumi berkenaan dengan kaidah ‘sebab-sebab syar’iyah’ Dan meminta berkah kepada selain Allah jelas hukumnya syirik. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah keterangan lebih rinci.

1 – Mencari berkah yang disyari’atkan melalui pribadi-pribadi tertentu. Misalnya melalui pribadi Rasulullah ketika beliau masih hidup. Banyak hadits shahih menerangkan tentang berkahnya pribadi Rasulullah. Disamping pribadi Rasulullah, ada pula pribadi-pribadi lain yang dinyatakan sebagai sebab diperolehnya berkah. Misalnya Abu Bakar, A’isyah dan keluarganya. Dalam sebab turunnya ayat tayammum, disebutkan bahwa A’isyahlah penyebab datangnya hukum tayammum ketika kalungnya hilang dalam suatu perjalanan bersama Nabi dan para sahabat. Perjalanan mereka tertunda karena harus mencari kalung A’isyah yang hilang, padahal mereka kehabisan air. Akhirnya turunlah berkah dari Allah berupa keringanan hukum untuk bertayammum ketika tidak mendapatkan air. Saat itu Usaid bin Hudhair mengatakan: Berkah ini bukan untuk pertama kalinya yang disebabkan oleh kalian wahai keluarga Abu Bakar. (Lihat Shahih Bukhari dengan Fathul Bari I/431-434).

2 – Mencari berkah yang disyari’atkan melalui perkataan-perkatan atau perbuatan-perbuatan atau bentuk-bentuk kegiatan yang diberkahi. Jika hal itu dilaksanakan sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi, maka akan diperoleh berkah dan kebaikan sesuai dengan niat dan kesungguhan usahanya. Selama tidak ada penghalang syar’i yang dapat menghalangi diperolehnya kebaikan tersebut. Misalnya, berdzikir kepada Allah dan membaca al-Qur’an al-Karim. Berkah yang terkandung di dalamnya sangat banyak. Di antaranya pahala, diampunkannya dosa-dosa, masuk sorga, terjaga dari godaan setan dan seterusnya. Hadits tentang ini banyak sekali. Misal lain, berjihad fi Sabilillah untuk memperoleh mati syahid. Begitu pula berkumpul untuk makan bersama dari satu tempat dan mengawali makan dari arah tepinya. Rasulullah bersabda: “Berkumpulllah kalian disekeliling makananmu dan sebutlah nama Allah untuk makan, niscaya Allah akan memberikan berkah kepada kalian di dalamnya”. (Hadits Hasan, di hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud II/717). Jika seseorang di antara kamu makan suatu makanan, maka janganlah memakan mulai dari bagian atasnya , tetapi hendaknya ia makan mulai dari bagian bawahnya, karena berkah akan turun dari bagian atasnya. (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh al-Albani II/719)

Jadi setiap perkataan atau perbuatan yang diperintahkan oleh Allah atau Rasulullah, kemudian dilaksanakan oleh seorang hamba karena keimanannya kepada Allah dan karena kepercayaannya kepada Rasulullah, dengan cara yang sessuai dengan tuntunan, maka hamba itu akan memperoleh barakah yang banyak.

3 – Mencari berkah yang disyari’atkan melalui tempat-tempat tertentu.Misalnya, masjid-masjid Allah. Berdasarkan sabda Rasulullah,Tempat yang paling dicintai Allah dalam suatu negeri adalah masjid-masjidnya. Sedangkan tempat yang paling dibenci Allah dalam suatu negeri adalah pasar-pasarnya. (Shahih Muslim, Syarh Nawawi V/171) Mencari berkah melalui masjid-masjid tidak dengan cara mengelus-elus (mengusap-usap) tanahnya atau menciumi temboknya atau nyepi dan bertapa di dalamnya, atau cara-cara sejenisnya. Itu adalah bid’ah. Mencari berkah melalui masjid-masjid ialah dengan cara shalat berjama’ah di dalamnya, duduk menunggu waktu shalat, menghadiri majlis dzikir atau majlis ilmu di dalamnya dan kegiatan-kegiatan lain yang disyari’atkan.

4 – Mencari berkah yang disyari’atkan melalui waktu-waktu tertentu. Misalnya bulan Ramadhan, dengan cara melaksanakan ibadah shiam dan ibadah-ibadah lain yang disyari’atkan serta tidak melakukan kegiatan-kegiatan maksiat atau kegiatan-kegiatan bid’ah. Misal lain, malam lailatul Qadar. Dengan cara memperbanyak ibadah. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadr : 1-5). Misal lain lagi, waktu sepertiga malam terakhir. Rasulullah bersabdaAllah, Rabb kita turun ke langit dunia pada tiap-tiap sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan doanya, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni. (HSR Bukhari). Dan waktu-waktu lainnya.

B. Mencari berkah yang dilarang oleh syari’at.

Dalam hal ini ada dua sebab :
-Karena sesuatu yang dicari berkahnya ternyata tidak memiliki berkah / tidak ada nashnya.

-Karena cara yang dilakukannya menyimpang, diantaranya:

1 – Mencari berkah melalui pribadi-pribadi tertentu. Misalnya melalui orang-orang shalih yang telah mati atau melalui orang shalih yang masih hidup tetapi dengan cara-cara menyimpang hingga sampai pada bentuk permintaan kepada selain Allah. Hukumnya adalah syirik.

2 – Mencari berkah melalui benda-benda atau tempat-tempat tertentu. Pada zaman jahiliyah dahulu orang-orang kafir mencari berkah melalui berhala Lata, Uzza, Manat dan lain-lainnya. Allah berfirman berkaitan dengan mereka: Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan; Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.(An-Najm:19-22). Maksudnya, mereka menyembah berhala-berhala itu dengan asumsi bahwa berhala tersebut merupakan anak perempuan Allah, padahal mereka menyukai laki-laki untuk anak mereka sendiri. Permintaan berkah melalui berhala-berhala ini, menyebabkan mereka dikatakan telah beribadah kepada selain Allah. Mereka juga terbiasa ngalap berkah melalui pohon atau benda-benda yang dikeramatkan, seperti yang dikisahkan oleh Abu Waqid al-Laitsi menjelang perang Hunain.14)  Di zaman sekarang ada bentuk-bentuk ngalap berkah yang dilakukan oleh sementara kalangan yang mengaku Islam, persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir zaman jahiliyah. Ada ngalap berkah melalui kuburan orang shalih, batu, kayu, sabuk dan amalan-amalan bid’ah. Semua itu adalah perbuatan syirik, atau minimal bid’ah.

3 – Mencari berkah melalui waktu-waktu tertentu. Misalnya mempergunakan waktu-waktu tertentu seperti, bulan Sya’ban untuk nyadran atau khusus untuk ziarah kubur karena dianggap banyak berkahnya. Ini merupakan perbuatan bid’ah. Atau bulan tertentu dianggap sebagai bulan keberuntungan untuk menikah, sementara bulan lainnya dianggap bulan sial. Keyakinan ini adalah keyakinan syirik. Atau merayakan perayaan-perayaan pada hari-hari tertentu diluar yang disyari’atkan ajaran Islam, seperti mengadakan perayaan maulid Nabi, isra’-mi’raj, Nuzulul Qur’an dansebagainya. Dengan anggapan kegiatan-kegiatan tersebut berpahala, karena menjunjung tinggi syi’ar Islam. Itu adalah kegiatan-kegiatan bid’ah yang sudah salah kaprah..