Muslim Bergaya Musyrik

Oleh : Redaktur El-dasa (edisi 4 thn k-I 2009)

Komunitas muslim semakin besar. Jumlah kaum muslimin diseluruh dunia lebih dari 1 milyar. Tapi ada sesuatu yang kita sama-sama berharap, yaitu komunitas yang besar tersebut adalah yang betul-betul komunitas muwahhidin. Mengikhlashkan ibadah hanya kepada Alloh SWT semata.

Rosululloh Muhammad SAW diutus ke muka bumi untuk menebarkan tauhid, mengesakan setiap peribadatan hanya kepada Alloh SWT semata membekali beliau dengan hukum dan aturan. Akhlak yang indah akan terbentuk dalam diri orang yang bertauhid dan mengetahui aturan Alloh. Sosok indah itu tergambar pada kehidupan para sahabat Nabi Saw.

Waktu diutusnya Nabi SAW telah lewat 15 abad yang lalu. Sudah sekian milyar manusia menyatakan masuk Islam. Sekian pasang bibir telah melafalkan dua kalimat persaksian, “Laa ilaha illaloh, Muhammaddur Rosululloh” semakin hari semakin banyak jumlah pemeluk agama Islam. Semua itu suatu fenomena yang tentunya sangat membanggakan dan menggembirakan.

Dua kalimat syahadah merupakan gerbang untuk memasuki kehidupan muslim. Seseorang yang ingin masuk Islam salah satu syaratnya adalah mengucapkanya dengan penuh kerelaan. Dengan begitu ia akan sama dan sederajat dihadapan muslim yang lain. Tanpa membedakan warna kulit, status sosial, bangsa / suku dan kekayaan; harta, kehormatan dan jiwanya akan terlindungi. Haram merusaknya tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Kalimat yang dalam pandangan kita merupakan sesuatu yang sederhana itu ternyata mempunyai sejarah yang begitu heroik dan panjang. Karenanya, Arab jahiliyah menabuh genderang perang terhadap Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin. Kaum yang sudah kronis terjangkiti penyakit syirik itu menolak mentah-mentah dakwah tauhid. Mereka menawarkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan kekuasaan, harta dan wanita demi menghentikan dakwah suci tersebut. Mereka merasa sangat terganggu dengan ajaran tauhid, yang mengajarkan bahwa segala bentuk peribadatan hanya boleh dilakukan karena dan kepada Alloh. Dengan segala daya upaya mereka menindas, mengintimidasi, mengusir dan menyakiti kaum muslimin.

Kasus semacam ini hampir tidak ditemui di negara kita. Sebagian besar nenek moyang kita dengan mudah mengucapkan dua kalimah syahadah tersebut. Dalam perjalanan kehidupan selanjutnya, negara kita ini dipenuhi oleh kaum muslimin.

Ada sesuatu hal menarik untuk direnungkan. Kalimat yang tidak mau didengarkan apalagi mengucapkannya, di Negara kita malah disambut dengan hangat. Ada apa ini? Apakah karena orang Arab tahu makna kalimat pendek itu, sedang orang kita belum memahaminya?

Bangsa kita adalah bangsa non Arab dan banyak yang tidak memahami bahasa Arab, maka mereka menganggapnya sebagai kalimat yang sederhana / mudah diucapkan. Pendek seperti tulisan dan ucapannya tanpa mengandung konsekwensi apapun. Sehingga karena tenggelam dalam janji bebas siksa neraka, maka dengan suka rela mengucapkannya.

Oleh karena itu, walaupun mengucapkan berkali-kali, tetapi masih tidak mau meninggalkan keyakinan dan perilaku kesyirikannya. Yang dahulunya dukun, setelah mengucap kalimat syahadat masih pula menjadi dukun. Yang suka cari wangsit di kuburan pun tetap tidak mau meninggalkannya. Begitu juga yang suka minta tolong dan berdoa kepada arwah para leluhur, tetap saja dilakukan. Tanpa merasa perbuatannya tersebut telah menyelisihi kalimat yang ia ucapkan.

Berbeda dengan orang Arab yang memahami betul kalimat syahadat. Kalimat pertama membuat mereka terasa seperti disambar petir. Mereka tidak mau meninggalkan sesembahan-sesembahan untuk kemudian tegas-tegas melakukan peribadatan kepada Alloh semata. Padahal itu adalah tututan utamanya. Kalimat itu menegaskan harus meniadakan segenap sesembahan, kemudian memberikan hak sesembahan itu hanya kepada Alloh. Dari itu kalau ada yang menyembah selain Alloh, maka itu sesembahan yang batil.

Maunya orang Arab jahiliyah adalah “Kami percaya kepada eksitensi Alloh.” Mereka percaya bahwa yang menciptakan segala sesuatu adalah Dia. Juga tidak mengingkari bahwa Allohlah yang menanggung rejeki segenap makhluk. Hanya mereka sangat keberatan untuk meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang kadang enak dimakan itu. Mereka ingin menjadikan patung-patung itu sebagai perantara yang akan mendekatkan kepada Alloh. Alloh berfirman, artinya:

“ingatlah, hanya kepunyaan Allohlah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Patung itu merupakan penggambaran dari sosok orang-orang sholeh yang pernah hidup. Mereka anggap itu sebagai visualisasi para wali. Orang yang masa hidupnya dikenal sangat taat beribadah dan gemar berbuat baik. Dengan begitu musyrikin Quraisy ingin mendapatkan syafa’at dari mereka. “Dan mereka menyembah selain Alloh sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemudhorotan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Alloh.” (Yunus:18)

Jadi mereka tidak rela kalau Alloh ditunggalkan. Mereka ingin ada sesuatu selain Alloh yang berperan dalam kehidupannya. Karena kalimat syahadah menolak faham ini,maka orang Arab jahiliyah pun menolak mengucapkan dua kalimat syahadah tersebut.

Akibat lemahnya pemahaman atau mungkin malah salah paham tentang kalimat syahadat, maka kehidupan bangsa kita sangat memprihatinkan. Banyak perilaku syirik yang menghiasi kehidupan sehari-hari. Bukan hanya orang awam saja, bahkan para pejabat dan orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Bagaimana kaum kita kalau dibanding orang Arab Jahiliyah? Kalau berbeda tentu berbeda. Salah satunya adalah mereka menolak kalimat tauhid, sedangkan kaum kita mengucapkannya dengan ringan. Kalau kita perhatikan perilaku sebagian kaum kita dengan kaum Arab Jahiliyah dulu ada kemiripannya. Kita percaya bahwa Alloh SWT adalah Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki, merekapun mengakui ini. Syirik yang ada pada waktu itu, ada juga di zaman kini. Kalau dulu orang musyrik berdo’a kepada patung sebagai penggambaran kepada para wali yang telah meninggal. Dengan begitu mereka berharap akan lebih dekat kepada Alloh SWT. Sebagian kaum kita sekarang berdo’a kepada kuburan dari tokoh yang dianggap wali. Juga berharap dengan begitu akan terdekatkan kepada Alloh. Ini yang lebih parah lagi, bisa jadi kesyirikan sebagian kaum kita lebih parah dibanding kesyirikan orang Arab zaman dahulu. Orang musyrikin Quraisy dalam kondisi terjepit dan susah bisa berdo’a secara ikhlas hanya kepada Alloh, walaupun setelah kembali lapang, muncul lagi perilaku syiriknya.

Alloh berfirman:

“Maka apabila naik kapal mereka mendo’a kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (Al-Ankabut: 65)

Ternyata perilaku kesyirikan sebagian kaum kita tidak mengenal susah atau gembira. Tahu anaknya sakit, langsung dibawa ke dukun, kemudian memberi sesaji di perempatan jalan. Ketika banyak bencana malah menghanyutkan kepala kerbau sebagai persembahan kepada penguasa laut. Itu susahnya kalau pas gembira? Sepertinya sama saja. Sebelum panen padi tak lupa menyediakan sesaji buat dewi sri.

Nah kita sebagai generasi Islam jangan sampai terjebak dalam perilaku syirik tersebut. Maka kita mesti memahami dua kalimat syahadat dengan baik. Bukan sekedar mengucapkannya, tapi juga memahami makna dan rukun-rukunnya. Dengan begitu kita berharap akan menjadi muslim yang hakiki serta terhindar dari perbuatan syirik.

Makna Laa ilaaha illalloh adalah tidak ada sesembahan yang haq melainkan Alloh. Syahadah ini mengharuskan seseorang mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada sembahan yang haq melainkan Alloh, karena makna ilaah adalah ma’luh yang berarti sesembahan. Kalimat syahadat ini mengandung dua unsur: menafikan (meniadakan) dan menisbatkan (menetapkan). Menafikan berarti meniadakan semua sesembahan selain Alloh.

Alloh berfirman:

”Karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Alloh, di waktu adzab Tuhanmu telah datang.” (Hud:101).

Dan menisbatkan berarti menetapkan sesembahan hanya kepada Alloh saja.

Aloh berfirman:

“Sembahlah Alloh, sekali-kali tiada sembahan bagimu selain Dia.” (Al-A’raf: 59),

“(Kuasa Alloh) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Alloh, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Alloh, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Alloh, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj:62)

Selain itu ada dalam firman Alloh surat An-Najm:19-23, surat Yusuf:40.

Syarat laa ilaaha illalloh ada 7:

1. Mengilmui tentang kalimat tauhid. Berlepas diri dari pelaku kesyirikan dan kemusyrikan.

2. Yakin, tidak ragu dengan kalimat laa ilaaha illalloh.

3. Ikhlas, memurnikan agama hanya untuk/ kepada Alloh SWT.

4. Memiliki kejujuran karena menghalangi kemunafikan.

5. Kita harus mencintai kalimat tauhid dan bergembira dengan dijauhkan dari kesyirikan.

6. kita harus patuh dalam menunaikan laa ilaaha illalloh. Yaitu mengerjakan amal-amal wajib dengan memurnikan hanya untuk Alloh.

7. kita harus menerima atau patuh dengan menaati perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan Alloh SWT dan kufur dengan thogut.

HIKMAH SALAF

Timah panas di telinga

Rosululloh Saw bersabda:

“Barangsiapa yang mendengar perkataan suatu kaum yang tidak menginginkan pembicaraannya didengar oleh orang lain, maka telinganya diberi timah yang meleleh pada hari kiamat.” (riwayat Al Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu majah,dan Ahmad)

Kesusahan Mukmin dan pertolongan Alloh

Rosululloh Saw bersabda:

“Barangsiapa yang menghilangkan salah satu kesusahan dunia dari seorang mukmin maka Alloh akan menghilangkan salah satu kesusahannya dihari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada seorang yang kesulitan maka Alloh akan memberi kemudahan padanya didunia dan diakhirat, dan barangsiapa yang menutup aurot seorang muslim maka Alloh akan menutup aurotnya didunia dan diakhirat. Alloh menolong hamba-Nya selagi hamba-Nya tersebut mau menolong saudaranya.” (riwayat Muslim)

Hormat pada yang Tua

Rosululloh Saw bersabda:

”Bukan termasuk golongan kami,orang yang tidak hormat kepada orang yang tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” (Riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi)