MENGAPA HARUS MENGIKUTI MANHAJ SALAF

Oleh : Redaktur El-dasa

Sebenarnya orang-orang melibatkan diri dalam dunia dakwah Islamiyah banyak sekali dan yang menantikan para pemuda “aktivis dakwah” lebih banyak lagi. Mereka semua sungguh-sungguh bekerja keras umtuk memulai kehidupan yang Islami. Di tengah-tengah luapan gelombang dakwah yang sedang pasang ini akan ditemukan adanya dua kelompak yaitu kaum muda dan kaum tua. Kaum tua telah puas dengan hasil dakwah mereka. Adapun kamu muda mereka menyingsingkan lengan, mengencangkan sarung dan menghentakkan kaki mereka di atas kendaraannya. Namun yang disayangkan, kedua kelompok ini berada dalam kebingungan dan kebimbangan. Sehingga, adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi untuk segera ditampilkan gambar Manhaj Salaf guna menyiapkan kehidupan Islami yang kokoh di atas Manhaj Nubuwah.
Penyaringan terhadap segala hal yang bukan berasal dari Islam, baik dalam hal aqidah, ahkam (hukum) maupun akhlaq adalah agar Islam kembari berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana keaslihan risalah yang telah diturunkan kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. Ini untuk mendidik generasi muslim di atas Islam yang murni dengan tarbiyah imaniyyah (pendidik keimanan) yang memberikan bekas yang mendalam. Yang demikian itulah manhaj dakwah salafiyah yang selamat dan Ath Thaifah Ath Atsariyah (kelompok yang berpegang dengan pemahaman Rasulullah beserta sahabatnya) yang mendapatkan pertolongan dalam mengadakan perubahan. Masalah pertama yang perlu kita bahas adalah mengapa harus manhaj salaf ? Menjadi suatu keharusan mutlak bagi setiap muslim yang menginginkan kesuksesan dan merindukan kehidupan yang mulia, serta kemenangan di dunia dan akhirat, bahwa dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih harus dengan pemahaman manusia terbaik yaitu para sahabat dan tabi’in, serta siapapun yang mengikuti jalan mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ini karena tidak pernah tergambar sama sekali adanya sebuah fikrah, pemahaman dan manhaj yang lebih benar dan lebih lurus dibanding pemahaman dan manhaj Salafus Shalih. Oleh karena itu tidak akan pernah bisa baik kehidupan umat yang akhir ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi awal.

Apabila kita teliti dengan seksama dalil-dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah serta ijma’ dan qiyas maka bisa disimpulkan dari dalil-dalil tersebut tentang wajibnya memahami Al Qur’an dan As Sunnah dalam bimbingan manhaj Salafush Sholih, karena itu merupakan pemahaman yang disepakati kebenarannya sepanjang abad perjalanan dakwah ini. Oleh karena itu tidak boleh bagi siapa saja sehebat apapun kedudukannya memahami Islam ini selain pemahaman Salaf. Dan siapapun juga yang membenci pemahaman Salaf lalu menggantinya dengan bid’ah-bid’ah orang belakangan (orang-orang sesudah generasi Salaf ) yang diracuni dengan berbagai pemahaman yang membahayakan dan yang tidak selamat dari pemahaman asing, akan mengakibatkan tercerai-berainya kamu muslimin. Ini adalah hal yang pasti terjadi dan tak bisa diingkari. Maka siapa saja yang mengikatkan diri dengan pemahaman bid’ahnya orang belakang, dia bagaikan seseorang yang mendirikan bangunan di tepi tebing keruntuhan, di pinggir jurang kehancuran dan di lereng kebinasaan. Cobalah semak penjelasan sari dalil dan hujah-hujah berikut ini :

  1. Sesungguhnya Salafus Shalih radhiallahu ‘anhum telah nyata kebaikan mereka baik dalam nash maupun istimbath, Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 100.

“Dan generasi yang terdahulu dan pertama-tama (memasuk Islam) di antara kaum muhajirin dan ashar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.

Dengan dalil ayat ini dapat diambil pemahaman bahwa Allah Sang Pencipta telah memuji terhadap mereka yang mengikuti kepada sebaik-baik manusia. Telah diketahui bahwa apabila sebaik-baik manusia itu mengatakan suatu perkataan, kemudian ada seseorang yang mengikuti mereka, maka dia wajib untuk mendapatkan pujian dan berhak untuk mendapatkan keridhaan. Kalau seandainnya sikap ittiba’ mereka tidak membedakan dengan selain mereka (yang tidak ittiba’) maka dia tidaklah berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Siapakah sebaik-baik manusia itu? Mereka adalah para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Biyyinah : 7

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih merekalah sebaik-baik manusia”.

  1. Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 110 :

“Kalian adalah umat terbaik yang telah ditampilkan untuk manusia, kalian telah beramar makruf dan bernahi munkar dan beriman kepada Allah”.

Dari sini kita mendapatkan petunjuk bahwa Allah telah menetapkan keutamaan mereka atas segala umat, dan gelar seutama-utama umat ini mengharuskan mereka istiqamah dalam segala hal. Di samping itu mereka sesungguhnya memang tidak pernah menyimpang dari cahaya yang terang benderang (Al Haq) ini. Sungguh Allah telah menyaksikan bahwa mereka telah beramar makruf dan bernahi munkar dengan penuh keimanan serta mengharap pahala-Nya. Keadaan seperti ini mengharuskan pemahaman mereka menjadi hujjah bagi orang yang datang sesudahnya hingga Allah mewarisi bumi ini beserta apa yang ada di atasnya (hari kiamat, pen.). Apabila konsekwensu=inya tidak seperti itu, berarti amar ma’ruf dan nahi munkar yang mereka lakukan keliru (tidak dipuji dan diterima Allah). Cobalah fikir dan renungkan.

Maka jika ada yang berkata :“ini (gelar sebaik-baik umat, pen.) bersifat umum dalam umat ini, tidak hanya terbatas pada generasi sahabat saja,”saya katakan bahwa mereka (para sahabat) adalah objek pembicaraan yang pertama, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak masuk dalam pembicaraan ayat di atas, kecuali kalau ada penjelasan dengan qiyas atau dalil lain sebagaimana dalam dalil pertama. Secara umum dan ini yang benar sahabat adalah yang pertama kali masuk dalam objek pembicaraan karena merekalah yang pertama kali mengambil ilmu dan amal langsung dari Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tanpa perantara, dan merekalah yang mendapat kabar gembira dengan wahyu ini. Oleh karena itu, merekalah yang paling pertama masuk dalam pembicaraan ayat ini dibanding yang lain disebabkan sifat-sifat yang telah diberikan kecuali kepada mereka (para sahabat). Pun kecocokan sifat dengan pensifatan Allah adalah merupakan bukti bahwa mereka lebih berhak mendapatkan pujian dari pada yang lain.

“Allah telah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.

3. Sabda Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa salam :
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’it tabi’in pen.). Sesudah itu akan datang kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR. Bukhari IV/189, Muslim VII/184-185, Ahmad I/424dll).
Apakah kebaikan yang ditetapkan kepada para sahabat yang dimaksudkan adalah dalam hal warna mereka? Atau jasad mereka, harta mereka, tempat tinggal mereka, atau …? Tidak diragukan lagi bagi orang yang memiliki akal yang sempurna, memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar, bahwa bukan itu semua yang dimaksudkan di sini, sama sekali bukan. Karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam :

“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuh kalian dan harta kalian namun Dia hanya melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim, lihat Syarah Nawawi XVI/121).
Dan juga, karena kebaikan dalam Islam ukurannya adalah takwanya hati dan amal shalih, sebagaimana firmannya Surat Al Hujurat : 13 :

“Sesungguhnya yang termulia diantara kalian adalah yang paling takwa.”

Allah telah melihat kepada hati-hati para sahabat radhiallahu anhum, maka Allah temukan hati mereka adalah sebaik-baik hati para hamba-Nya setelah hati Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa salam. Abdullah bin Mas’ud mengatakan :
“Sesungguhnya Allah telah melihat kepada hati-hati para hamba-Nya maka Allah temukan hati Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah hati terbaik diantara hamba-hamba-Nya. Maka Dia memilihnya dan diutus-Nya dengan risalah, kemudian dia melihat kepada hati-hati para hamba-Nya setelah hati nabi-Nya. Maka Dia dapati hati-hati para sahabat hati-hati terbaik diantara para hamba-Nya. Maka Dia jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang diatas agama-Nya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad I/379. Dishahihkan oleh Hakim dan disepakati Imam Ad-Dzahabi).

Maka Allah berikan kepada para sahabat ini pemahaman dan ilmu yang benar, yang ilmu tersebut tidak didapatkan pada generasi sesudahnya.
“Dari abi Juhifah, dia berkata :”Aku berkata kepada Ali : ‘Apakah kamu memiliki kitab? Atau pemahaman yang diberikan seorang muslim(selain nabi), atau apa yang ada dilembaran-lembaran ini..? Jawab Ali : Tidak kecuali yang kumiliki adalah Kitabullah”. (HR. Bukhari /I-204FathulBari’)
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa kebaikan yang dipuji dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah kebaikan dalam hal pemahaman dan manhaj. Oleh karena itu pemahaman sahabat terhadap Al Qur’an dan As Sunnah adalah hujjah bagi orang-orang yang datang sesudah mereka hingga akhir umat ini.

4. Akan lebih jelas lagi, Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah : 143

“Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu sebagai umat pertengahan agar kalian bisa menjadi saksi bagi manusia dan Rasul juga menjadi saksi atas kalian.”

Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menjadikan mereka manusia terbaik dan adil (jujur). Mereka adalah semulia-mulia umat, paling jujur perkataan, perbuatan serta niatnya. Dengan demikian mereka berhak menjadi saksi bagi manusia. Allah mempopulerkan, meninggikan derajat, memuji dan menerima mereka dengan baik. Dan karena kesaksian yang diterima oleh Allah adalah kesaksian dengan ilmu dan kejujuran, maka Allah kabarkan dengan Al Haq yang disandarkan kepada ilmunya. Allah berfirman dalam surat Az Zukhruf : 86 ;

“Kecuali yang bersaksi dengan Al Haq dan mereka mengetahui”

Apabila syahadah mereka diterima di sisi Allah maka tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka terhadap Dien ini adalah hujjah bagi orang yang sesudah mereka, sebab kalau tidak sebagai hujjah berarti persaksian mereka tidak benar. Padahal ayat ini telah menetapkan secara mutlak. Dan umat ini tidaklah memberikan katebelece (kepercayaan) kejujuran terhadap suatu generasi secara mutlak kecuali terhadap generasi para sahabat.
Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan yang mengikuti manhaj Salaf serta ahlul hadist telah memberi kesaksian tentang kejujuran mereka secara mutlak dan umum. Oleh sebab itu, mereka mengambil riwayat dan sekaligus penjelasan makna hadist dari mereka (para sahabat) tanpa kecuali. Pada orang selain sahabat, tidak diberikan kesaksian tentang kejujuran mereka kecuali bagi yang memang benar-benar diakui kepemimpinannya dan kejujurannya. Dan keduanya (kepemimpinan dan kejujuran) tidak diberikan kepada seseorang kecuali apabila dia berjalan di atas jejak para sahabat radhiallahu anhum.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pemahaman shahabat adalah hujjah bagi selain mereka dalam mengarahkan nas-nash Al Qur’an dan As Sunnah, dan dari sinilah perintah Allah Ta’ala untuk mengikuti mereka.

5. Allah berfirman dalam surat Luqman : 5

“Dan ikutilah jalannya orang-orang yang kembali kepada-Ku”

Semua sahabat radhiallahu anhum adalah orang-orang yang kembali (dengan ikhlas dan taat) kepada-Nya dan Allah telah memberi hidayah pada baiknya perkataan dan shalihnya amal perbuatan mereka dengan firmannya surah Az Zumar : 18 ;

“Yang mendengarkan perkataan lalu mereka mengikuti apa yang paling baik diantaranya (Al Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan merekalah orang-orang yang berakal.”
Dari sini, wajib bagi kita untuk mengikuti jalan mereka dalam memahami Dienullah, baik dalam memahami Al Qur’an maupun As Sunnah. Allah mengancam orang-orang yang mengikuti selain jalannya para sahabat dengan neraka Jahaman dan jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.

6. Allah juga berfirman dalam surat An Nisa : 115 ;

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum mukminin, Kami biarkan dia leluasa bergelimang dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami akan masukkan ia ke dalam Jahanam dan Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengancam kepada orang yang mengikuti selain jalannya kaum mukminin (yaitu para sahabat, karena mereka adalah mukminin yang haq, red.). Maka mengikuti jalannya kaum mukminin (para shahabat) dalam memahami syari’ah adalah hal yang wajib dan menyelisihinya adalah merupakan kesesatan.
7. Dari Abu Musa Al Aya’ari radhiallahu anhum, dia berkata: “Kami shalat Maghrib bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam kemudian kami berpendapat :”Kita duduk saja hingga shalat Isya bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam” maka kami pun duduk. Kemudian keluarlah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dan berkata :”Kalian masih disini?”, maka kami mengatakan :”Ya wahai Rasulullah, kami telah shalat (maghrib) bersamamu kemudian kami berpendapat untuk duduk hingga kami shalat Isya bersamamu, “maka dia berkata :”Kalian memang baik dan kalian benar, “dia (Abu Musa) berkata :”kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit dan lama sekali beliau seperti itu lalu mengatakan :”Bintang-bintang itu adalah pengaman bagi langit, apabila bintang-bintang itu sirna maka kehancuran akan menimpanya, dan aku adalah pengaman bagi para sahabatku, dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku. Apabila mereka telah pergi maka akan datang sesuatu yang telah dijanjikan kepada umatku.” (dikeluarkan oleh Muslim, lihat Syarah NawawiXVI/82).
Sungguh Rasulullah telah membuat perumpamaan bagi para sahabat radhiallahu anhum untuk orang-orang Islam setelah mereka seperti kedudukan dia kepada para sahabatnya dan seperti kedudukan bintang-bintang terhadap langit.
Permisalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam ini memberi pengertian yang sangat jelas tentang wajibnya mengikuti pemahaman para sahabat radhiallahu anhum dalam memahami Dien ini seperti kembalinya umat ini kepada nabi mereka Shalallahu ‘alaihi wa salam. Nabi telah menjelaskan Al Qur’an dan para sahabat radhiallahu anhum pun menukil penjelasannya secara utuh untuk disampaikan kepada umat ini.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tidaklah berbicara dengan hawa nafsunya. Apa saja yang berasal darinya adalah Ar-Rusyd (Al Haq) dan Al Huda (petunjuk). Para sahabat semuanya adil (jujur). Mereka tidak berbicara kecuali dengan jujur dan tidak beramal kecuali dengan haq.