HAKIKAT  TASAWWUF

Oleh: Abdulloh bin Taslim

Pendahuluan

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Istilah “sufi” atau “tasawwuf” tentu sangat dikenal dikalangan kita, terlebih lagi dikalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat taqwa tanpa melalui jalan tasawwuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawwuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafadzkan dzikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah U.

Sebelum kami membahas tentang hakikat tasawwuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi  yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al-Qur’an dan As Sunnah menurut apa yang difahami salafush shalih. Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para shahabat Rasulullah r  dibawah pimpinan ‘Ali Bin Abi Thalib y  berdasarkan perintah Rasulullah r . Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorangpun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka,  sebagaimana yang digambarkan Rasulullah r  ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khowarij ini, beliau r  bersabda: “…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Qur’an tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…”[1], dan dalam riwayat yang lain beliau r bersabda: “… Bacaan Al Qur’an kalian (wahai para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan puasa mereka”[2], maka pada hadits yang pertama Beliau r menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau r menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat y dalam beribadah (karena memang para Sahabat y berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa Riya’)

Yang kemudian prinsip ini diterapkan dengan benar oleh ‘Ali Bin Abi Thalib t , shahabat yang meriwayatkan hadits di atas, tatkala kelompok khowarij keluar untuk memberontak dengan satu slogan yang mereka elu-elukan: “Tidak ada hukum selain hukum Allah U “. Maka ‘Ali Bin Abi Thalib t  menanggapi slogan tersebut dengan ucapan beliau t  yang sangat masyhur -yang seharusnya kita jadikan sebagai pedoman dalam menilai suatu pemahaman- yaitu ucapan beliau t  : “(slogan mereka itu ) adalah kalimat (yang nampaknya) benar tetapi dimaksudkan untuk kebatilan”.

Semoga Allah U Merahmati Imam Abu Muhammad Al Barbahari yang mengikrarkan prinsip ini dalam kitabnya “Syarh As Sunnah” dengan ucapan beliau: “Perhatikan dan cermatilah –semoga Allah U Merahmatimu- semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman di hadapanmu, maka jangan sekali-kali kamu terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti ucapan/pemahaman tersebut, sampai kamu tanyakan dan meneliti kembali: Apakah ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para Sahabat Rasulullah r t atau pernah disampaikan oleh ulama ahlus Sunnah? Kalau kamu dapati ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman mereka t berpegangteguhlah kamu dengan ucapan/pemahaman tersebut, dan janganlah (sekali-kali) kamu meninggalkannya dan memilih pemahaman lain, sehingga (akibatnya) kamu akan terjerumus ke dalam neraka!”[3]

Setelah prinsip di atas jelas, sekarang kami akan membahas tentang hakikat tasawwuf, agar kita bisa melihat dan menilai dengan jelas benar atau tidaknya ajaran tasawwuf ini.

Definisi Tasawwuf / Shufi

Kata “Shufi” berasal dari bahasa Yunani “Shufiya” yang artinya: hikmah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata ini merupakan penisbatan kepada pakaian dari kain “Shuf” (kain wol) dan pendapat ini lebih sesuai karena pakaian wol di zaman dulu selalu diidentikkan dengan sifat zuhud, Ada juga yang mengatakan bahwa memakai pakaian wol dimaksudkan untuk bertasyabbuh (menyerupai) Nabi ‘Isa Al Masih r[4].

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : “Ada perbedaan pendapat dalam penisbatan kata “Shufi”, karena kata ini termasuk nama yang menunjukkan penisbatan, seperti kata “Al Qurasyi” (yang artinya : penisbatan kepada suku Quraisy), dan kata “Al Madani” (artinya : penisbatan kepada kota Madinah) dan yang semisalnya. Ada yang mengatakan :” Shufi” adalah nisbat kepada ahlu Ash Shuffah[5], tapi pendapat ini (jelas) salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shuffi” (dengan huruf  “fa’ “yang didobel).Ada juga yangmengatakan: nisbat kepada “Ash Shaff” (barisan) yang terdepan di hadapan Allah U , pendapat ini pun salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shaffi” (dengan harakat fathah pada huruf “shad” dan huruf “fa’ ” yang didobel. Ada juga yang mengatakan: nisbat kepada “Ash Shafwah” (orang-orang terpilih) dari semua makhluk Allah U , dan pendapat ini pun salah karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shafawi”. Ada juga yang mengatakan: nisbat kepada (seorang yang bernama) Shufah bin Bisyr bin Udd bin Bisyr bin Thabikhah, satu suku dari bangsa Arab yang di jaman dulu (jaman jahiliyah) pernah bertempat tinggal di dekat Ka’bah di Mekah, yang kemudian orang-orang yang ahli nusuk (ibadah) setelah mereka dinisbatkan kepada mereka, pendapat ini juga lemah meskipun lafadznya sesuai jika ditinjau dari segi penisbatan,  karena suku ini tidak populer dan tidak dikenal oleh kebanyakan orang-orang ahli ibadah, dan kalau seandainya orang-orang ahli ibadah dinisbatkan kepada mereka maka mestinya penisbatan ini lebih utama di jaman para shahabat, para tabi’in dan tabi’it tabi’in, dan juga karena mayoritas orang-orang yang berbicara atas nama shufi tidak mengenal qabilah (suku) ini dan tidak ridha dirinya dinisbatkan kepada suatu suku yang ada di jaman jahiliyah yang tidak ada eksistensinya dalam islam. Ada juga yang mengatakan – dan pendapat inilah yang lebih dikenal – : nisbat kepada “Ash Shauf” (kain wol)[6].

Lahirnya Ajaran Tashawwuf

Tasawwuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di jaman para shahabat y  bahkan tidak dikenal di jaman tiga generasi yang utama (generasi shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah jaman tiga generasi ini[7].

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal dikalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakn lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dari   Hasan Al Bashri”[8].

Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini pertamakali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (islam) lainnya[9].

Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: “Tasawwuf adalah suatu aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang  suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka[10].

Dan berkata DR. Shabir Tha’imah dalam kitabnya “Ash Shufiyyah Mu’taqadan Wa Maslakan” (hal. 17): Dan jelas sekali besarnya pengaruh gaya hidup kependetaan nashrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusatkan diri pada kegiatan ajaran tasawwuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal islam telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu ahli tasawwuf”[11].

Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau “At Tashawwuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar” (hal. 28):”Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawwuf yang dulu maupun yang sekarang dan ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawwuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan sama sekali tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawwuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad r dan para sahabat beliau y yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah U, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawwuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model nashrani,  dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha”[12].

Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawwuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam islam, hal ini terlihat jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawwuf, amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan disini adalah orang-orang ahli tasawwuf zaman sekarang, yang banyak melakukan kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawwuf yang terdahulu keadaan mereka masih lumayan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain-lain[13] Prinsip-prinsip dasar ajaran tashawwuf  yang menyimpang dari petunjuk Al Qur’an dan As sunnah[14]

Orang-orang ahli Tashawwuf –khususnya yang ada di jaman sekarang- mempunyai prinsip dasar dan metode khusus dalam memahami dan menjalankan agama ini, yang sangat bertentangan dengan prinsip dan metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan menyimpang sangat jauh dari Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka membangun keyakinan dan tata cara peribadatan mereka di atas simbol-simbol dan istilah-istilah yang mereka ciptakan sendiri, yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1. Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek Al Mahabbah (kecintaan) saja dan mengenyampingkan aspek- aspek yang lainnya, seperti aspek Al Khauf (ketakutan) dan Ar Raja’ (pengharapan), sebagaimana yang terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tashawwuf: “Aku beribadah kepada Allah U bukan karena aku mengharapkan masuk surga dan juga bukan karena takut masuk neraka”!? Memang benar bahwa aspek Al Mahabbah adalah landasan berdirinya ibadah, akan tetapi ibadah itu tidak hanya terbatas pada aspek Al Mahabbah saja – sebagaimana yang disangka oleh orang-orang ahli tashawwuf –, karena ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang melandasinya selain aspek Al Mahabbah, seperti: aspek Al Khauf, Ar Raja’, Adz Dzull (penghinaan diri), Al Khudhu’ (ketundukkan), do’a dan aspek-aspek lain. Salah seorang ulama Salaf berkata: “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah U dengan kecintaan semata maka dia adalah seorang zindiq, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan pengharapan semata maka dia adalah seorang Murji’ah, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah U dengan ketakutan semata maka dia adalah seorang Haruriyyah (Khawarij), dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah U dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan maka dialah seorang mukmin sejati dan muwahhid (orang yang bertauhid dengan benar)”.                                                          Oleh karena itu Allah U memuji sifat para Nabi dan Rasul-Nya r, yang mereka senantiasa berdo’a kepada-Nya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksaan-Nya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Kebanyakan orang-orang yang menyimpang (dari jalan Allah), orang-orang yang mengikuti ajaran-ajaran bid’ah berupa sikap zuhud dan ibadah-ibadah yang tidak dilandasi ilmu dan tidak sesuai dengan petunjuk dari Al Qur’an dan As Sunnah, mereka terjerumus kedalam kesesatan seperti yang terjadi pada orang-orang nashrani yang mengaku-ngaku mencintai Allah, yang bersamaan dengan itu mereka menyimpang dari syari’at-Nya dan enggan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menjalankan agama-Nya, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya”[15].

Dari uraian di atas jelaslah bahwa membatasi ibadah hanya pada aspek Al Mahabbah saja tidaklah disebut ibadah, bahkan ajaran ini bisa menjerumuskan penganutnya ke jurang kesesatan bahkan menyebabkan dia keluar dari agama islam.

2.Orang-orang ahli tashawwuf umumnya dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al Qur’an dan As Sunnah, tapi yang mereka jadikan pedoman adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka dan ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka, berupa Thariqat-thariqat bid’ah, berbagai macam zikir dan wirid yang mereka ciptakan sendiri, dan tidak jarang mereka mengambil pedoman dari cerita-cerita (yang tidak jelas kebenarannya), mimpi-mimpi, bahkan hadits-hadits yang palsu untuk membenarkan ajaran dan keyakinan mereka. Inilah landasan ibadah dan keyakinan ajaran Tashawwuf.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Orang-orang ahli Tashawwuf dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allah U berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang dipegang oleh orang-orang Nashrani, yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal kejujurannya, kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan seorang (Nabi/Rasul) yang terjaga dari kesalahan, maka (demikian pula yang dilakukan orang-orang ahli Tashawwuf) mereka menjadikan para pemimpin dan guru mereka sebagai penentu/pembuat syari’at agama bagi mereka, sebagaimana orang-orang Nashrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai penentu/pembuat syari’at agama bagi mereka.

3. Termasuk doktrin ajaran Tashawwuf adalah keharusan berpegang teguh dan menetapi zikir-zikir dan wirid-wirid yang ditentukan dan diciptakan oleh guru-guru thariqat mereka, yang kemudian mereka menetapi dan mencukupkan diri dengan zikir-zikir tersebut, beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah U dengan selalu membacanya, bahkan tidak jarang mereka mengklaim bahwa membaca zikir-zikir tersebut lebih utama daripada membaca Al Qur’an, dan mereka menamakannya dengan “zikirnya orang-orang khusus”.

Adapun zikir-zikir yang tercantum dalam Al Qur’an dan As Sunnah mereka namakan dengan “zikirnya orang-orang umum”, maka kalimat ( laa ilaha illallah ) menurut mereka adalah “zikirnya orang-orang umum”, adapun “zikirnya orang-orang khusus” adalah kata tunggal ( Q ), dan “zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus” adalah kata (Huwa/ Dia).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Barangsiapa yang menyangka bahwa kalimat (Laa ilaha Illallah) adalah zikirnya orang-orang umum, dan zikirnya orang-orang khusus adalah kata tunggal ( Q ), serta zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus adalah kata ganti (Huwa/Dia), maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan. Diantara mereka ada yang berdalil untuk membenarkan hal ini, dengan firman Allah U:

)قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون(

“Katakan: Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya” (QS. Al An’aam: 91).

(Berdalil dengan cara seperti ini) adalah kesalah yang paling nyata yang dilakukan oleh orang-orang ahli Tashawwuf, bahkan ini termasuk menyelewengkan ayat Al Qur’an dari maknanya yang sebenarnya, karena sesungguhnya kata ( Q ) dalam ayat ini disebutkan dalam kalimat perintah untuk menjawab pertanyaan sebelumya , yaitu yang Allah U dalam firman-Nya:

قل من أنزل الكتاب الذي جاء به موسى نورًا وهدًى للناس تجعلونه قراطيس تبدونها وتخفون كثيرًا    وعلمتم ما لم تعلموا أنتم ولا آباؤكم، قل الله

“Katakanlah: Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang terpisah-pisah, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapakmu tidak mengetahuinya?, katakanlah: Allah-lah (yang menurunkannya)” (QS. Al An’aam:91).

Jadi maknanya yang benar adalah: “Katakanlah: Allah, Dialah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Nabi Musa r[16].

4. Sikap Guluw (berlebih-lebihan/ekstrim) orang-orang ahli Tashawwuf terhadap orang-orang yang mereka anggap wali dan guru-guru thariqat mereka, yang bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bewala’ (mencintai/berloyalitas) kepada orang-orang yang dicintai Allah U dan membenci musuh-musuh Allah U. Allah U berfirman:

(  إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا الذين يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة وهم راكعون

“Sesungguhnya wali (kekasih/penolongmu) hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (QS. Al Maa idah:55).

Dan Allah U berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia” (QS. Al Mumtahanah:1).

Wali (kekasih) Allah U adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah U). Dan merupakan kewajiban kita untuk mencintai, menghormati dan meneladani mereka. Dan perlu ditegaskan di sini bahwa derajat kewalian itu tidak hanya dikhususkan pada orang-orang tertentu, bahkan setiap orang yang beriman dan bertakwa dia adalah wali (kekasih) Allah U, akan tetapi kedudukan sebagai wali Allah U tidaklah menjadikan seseorang terjaga dari kesalahan dan kekhilafan.

Inilah makna wali dan kewalian, dan kewajiban kita terhadap mereka, menurut pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Adapun makna “wali” menurut orang-orang ahli Tashawwuf sangat berbeda dengan pamahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena orang-orang ahli Tashawwuf memiliki beberapa kriteria dan pertimbangan tertentu (yang bertentangan dengan petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah) dalam masalah ini, sehingga mereka menobatkan derajat kewalian hanya kepada orang-orang tertentu tanpa dilandasi dalil dari syari’at yang menunjukkan kewalian orang-orang tersebut. Bahkan tidak jarang mereka menobatkan derajat kewalian kepada orang yang tidak dikenal keimanan dan ketakwaannya, bahkan kepada orang yang dikenal punya penyimpangan dalam keimanannya, seperti orang yang melakukan praktek perdukunan, sihir dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah U. Dan terkadang mereka menganggap bahwa kedudukan orang-orang yang mereka anggap sebagai “wali” melebihi kedudukan para Nabi r, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka:

Kedudukan para Nabi di alam Barzakh

Sedikit di atas kedudukan Rasul, dan di bawah kedudukan wali

Orang-orang ahli Tashawwuf  juga berkata: Sesungguhnya para wali mengambil (agama mereka langsung) dari sumber tempat Malaikat Jibril r mengambil wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah r?!. Dan mereka juga menganggap bahwa wali-wali mereka itu terjaga dari kesalahan?!.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “…Kamu akan dapati mayoritas orang-orang ahli Tashawwuf menobatkan seseorang sebagai “wali” hanya dikarenakan orang tersebut mampu menyingkap tabir dalam suatu masalah, atau orang tersebut melakukan sesuatu yang diluar kemampuan manusia, seperti menunjuk kepada seseorang kemudian orang itu mati, terbang di udara menuju ke Mekkah atau tempat-tempat lainnya, terkadang berjalan di atas air, mengisi teko dari udara dengan air sampai penuh, ketika ada orang yang meminta pertolongan kepadanya dari tempat yang jauh atau setelah dia mati, maka orang itu melihatnya datang dan menunaikan kebutuhannya, memberitahu tempat barang-barang yang dicuri, memberitakan hal-hal yang gaib (tidak nampak), atau orang yang sakit dan yang semisalnya. Padahal kemampuan melakukan hal-hal ini sama sekali tidaklah menunjukkan bahwa pelakunya adalah wali Allah U.

Bahkan orang-orang yang beriman dan bertakwa sepakat dan sependapat mengatakan bahwa jika ada orang yang mampu terbang di udara atau berjalan di atas air, maka kita tidak boleh terpedaya dengan penampilan tersebut sampai kita melihat apakah perbuatannya sesuai dengan Sunnah Rasulullah r? apakah orang tersebut selalu mentaati perintah Beliau r dan menjauhi larangannya?[17]…karena hal-hal yang diluar kemampuan manusia ini bisa dilakukan oleh banyak orang kafir, musyrik, ahli kitab dan orang munafik, dan bisa dilakukan oleh para pelaku bid’ah dengan bantuan setan/jin, maka sama sekali tidak boleh dianggap bahwa setiap orang yang mampu melakukan hal-hal di atas adalah wali Allah[18].

Kemudian ternyata kesesatan orang-orang ahli tashawwuf tidak sampai di sini saja, karena sikap mereka yang berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mengagungkan orang-orang yang mereka anggap sebagai “wali”, sampai-sampai mereka menganggap “para wali” tersebut memiliki sifat-sifat ketuhanan, seperti menentukan kejadian-kejadian di alam semesta ini, mengetahui hal-hal yang gaib, memenuhi kebutuhan orang-orang yang meminta pertolongan kepada mereka dalam perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah U dan sifat-sifat ketuhanan lainnya.Kemudian sikap berlebih-lebihan ini menjerumuskan mereka kedalam perbuatan syirik dengan menjadikan “para wali” tersebut sebagai sesembahan selain Allah U, dengan membangun kuburan “para wali” tersebut, meyakini adanya keberkahan pada tanah kuburan tersebut, melakukan berbagai macam kegiatan ibadah padanya, seperti thawaf dengan mengelilingi kuburan tersebut, bernadzar dengan maksud mendekatkan diri kepada penghuni kubur dan perbuatan-perbuatan syirik lainnya.

5. Termasuk doktrin ajaran Tashawwuf yang sesat adalah mendekatkan diri (?) kepada Allah U dengan nyanyian, tarian, tabuhan rebana dan bertepuk tangan, yang semua ini mereka anggap sebagai amalan ibadah kepada Allah U.

Berkata DR Shabir Tha’imah dalam kitabnya “Ash Shufiyyah, Mu’taqadan wa Maslakan”: “Saat ini tarian shufi modern telah dipraktekkan pada mayoritas thariqat-thariqat shufiyyah dalam pesta-pesta perayaan ulang tahun beberapa tokoh mereka, dimana para pengikut thariqat berkumpul untuk mendengarkan nada-nada musik yang terkadang didendangkan oleh lebih dari dua ratus pemain musik pria dan wanita, sedangkan para murid senior dalam pesta ini duduk sambil mengisap berbagai jenis rokok, dan para tokoh senior beserta para pengikutnya membacakan beberapa kisah khurafat (bohong) yang terjadi pada sang tokoh yang telah meninggal dunia…”.

Dan berkata Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah: “…Ketahuilah bahwa perbuatan orang-orang ahli tashawwuf ini sama sekali tidak pernah dilakukan di awal tiga generasi yang utama disemua negeri islam: Hijaz, Syam, Yaman, Mesir, Magrib, Irak, dan Khurasan. Orang-orang yang shalih, taat beragama dan rajin beribadah pada masa itu tidak pernah berkumpul untuk mendengarkan siulan (yang berisi lantunan musik), tepukan tangan, tabuhan rebana dan ketukan tongkat (seperti yang dilakukan oleh orang-orang ahli Tashawwuf), perbuatan ini adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah) yang muncul di penghujung abad kedua, dan ketika para Imam Ahlus Sunnah melihat perbuatan ini mereka langsung mengingkarinya, (sampai-sampai) Imam Asy Syafi’i t berkata: “Aku tinggalkan Bagdad, dan di sana ada suatu perbuatan yang diada-adakan oleh orang-orang zindiq (munafiq tulen) yang mereka namakan “At Tagbir”[19], yang mereka jadikan senjata untuk menjauhkan kaum muslimin dari Al Qur’an”. Dan Imam Yazid bin Harun berkata: “orang yang mendendangkan “At Tagbir” tidak lain adalah orang fasik, kapan munculnya perbuatan ini?”

Dan Imam Ahmad ketika ditanya (tentang perbuatan ini), beliau menjawab: “Aku tidak menyukainya (karena) perbuatan ini adalah bid’ah”, maka beliau ditanya lagi: apakah anda mau duduk bersama orang-orang yang melakukan perbuatan ini? Beliau  menjawab: “Tidak”. Demikian pula Imam-Imam besar lainnya mereka semua tidak menyukai perbuatan ini. Dan para Syaikh (ulama) yang Shalih tidak ada yang mau menghadiri (menyaksikan) perbuatan ini, seperti: Ibrahim bin Adham, Fudhail bin ‘Iyadh, Ma’ruf Al Karkhi, Abu Sulaiman Ad Darani, Ahmad bin Abil Hawari, As Sariy As Saqti dan syaikh-syaikh lainnya”[20].

Maka orang-orang ahli Tashawwuf yang mendekatkan diri (?) kepada Allah U dengan cara-cara seperti ini, adalah tepat jika dikatakan bahwa mereka itu seperti orang-orang (penghuni Neraka) yang dicela oleh Allah U dalam firman-Nya:

)الذين اتخذوا دينهم لهوًا ولعبًا(

“(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau” (QS. Al A’raaf:51).

6. Juga termasuk doktrin ajaran Tashawwuf yang sesat adalah apa yang mereka namakan sebagai suatu keadaan/tingkatan yang jika seseorang telah mencapainya maka dia akan terlepas dari kewajiban melaksanakan syari’at islam. Keyakinan ini muncul sebagai hasil dari perkembangan ajaran Tashawwuf, karena asal mula ajaran Tashawwuf – sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnul Jauzi – adalah melatih jiwa dan menundukan watak dengan berupaya memalingankannya dari akhlak-akhlak yang jelek dan membawanya pada akhlak-akhlak yang baik, seperti sifat zuhud, tenang, sabar, ikhlas dan jujur.

Kemudian Ibnul Jauzi mengatakan: “Inilah asal mula ajaran Tashawwuf yang dipraktekkan oleh pendahulu-pendahulu mereka, kemudian Iblis mulai memalingkan dan menyesatkan mereka dari generasi ke generasi berikutnya dengan berbagai macam syubhat (kerancuan) dan talbis (pencampuradukan), kemudian penyimpangan ini terus bertambah sehingga Iblis berhasil dengan baik menguasai generasi belakangan dari orang-orang ahli Tashawwuf. Pada mulanya, dasar upaya penyesatan yang diterapkan oleh Iblis kepada mereka adalah memalingkan mereka dari (mempelajari) ilmu agama dan mengesankan kepada mereka bahwa tujuan utama adalah (semata-semata) beramal (tanpa perlu ilmu), dan ketika Iblis telah berhasil memadamkan cahaya ilmu dalam diri mereka, mulailah mereka berjalan tanpa petunjuk dalam kegelapan/kesesatan, maka di antara mereka ada yang dikesankan padanya bahwa tujuan utama (ibadah) adalah meninggalkan urusan dunia secara keseluruhan, sampai-sampai mereka meninggalkan apa-apa yang dibutuhkan oleh tubuh mereka, bahkan mereka menyerupakan harta dengan kalajengking, dan mereka lupa bahwa Allah U menjadikan harta bagi manusia untuk kemaslahatan mereka,   kemudian mereka bersikap berlebih-lebihan dalam menyiksa diri-diri mereka, sampai-sampai ada di antara mereka yang tidak pernah tidur (sama sekali). Meskipun niat mereka baik (sewaktu melakukan perbuatan ini), akan tetapi (perbuatan yang mereka lakukan) menyimpang dari jalan yang benar. Di antara mereka juga ada yang beramal berdasarkan hadits-hadits yang palsu tanpa disadarinya karena dangkalnya ilmu agama. Kemudian datanglah generasi-generasi setelah mereka yang mulai membicarakan (keutamaan) lapar, miskin dan bisikan-bisikan jiwa, bahkan mereka menulis kitab-kitab (khusus) tentang masalah ini, seperti (tokoh sufi yang bernama) Al Harits Al Muhasibi. Lalu datang generasi selanjutnya yang mulai merangkum dan menghimpun mazhab/ajaran Tashawwuf dan mengkhususkannya dengan sifat-sifat khusus, seperti Al Ma’rifah (mengenal Allah dengan sebenarnya)(??!), As Sama’ (mendengarkan nyanyian dan lantunan musik), Al Wajd (bisikan jiwa), Ar Raqsh (tari-tarian) dan At Tashfiq (tepukan tangan), kemudian ajaran tashawwuf terus berkembang dan para guru thariqat mulai membuat aturan-aturan khusus bagi mereka dan membicarakan (membangga-banggakan) kedudukan mereka (orang-orang ahli Tashawwuf), sehingga (semakin lama mereka semakin jauh dari petunjuk) para ulama ahlus Sunnah, dan mereka mulai memandang tinggi ajaran dan ilmu mereka (ilmu Tashawwuf), sampai-sampai mereka namakan ilmu tersebut dengan “ilmu batin” dan mereka menganggap ilmu syari’at sebagai “ilmu lahir”??!Dan di antara mereka karena rasa lapar yang sangat hingga membawa mereka kepada khayalan-khayalan yang rusak dan mengaku-ngaku jatuh cinta dan kasmaran kepada Al Haq (Allah U), (padahal yang) mereka lihat dalam khayalan mereka adalah seseorang yang rupanya menawan yang kemudian membuat mereka jatuh cinta berat (lalu mereka mengaku-ngaku bahwa yang mereka cintai itu adalah Allah U). Maka mereka ini (terombang-ambing) di antara kekufuran dan bid’ah, kemudian semakin banyak jalan-jalan sesat yang mereka ikuti sehingga menyebabkan rusaknya akidah mereka, maka di antara mereka ada yang menganut keyakinan Al Hulul, juga ada yang menganut keyakinan Wihdatul Wujud, dan terus-menerus Iblis menyesatkan mereka dengan berbagai bentuk bid’ah (penyimpangan) sehingga mereka menjadikan untuk diri-diri mereka sendiri tata-cara beribadah yang khusus (yang berbeda dengan tata cara beribadah yang Allah U syari’atkan dalam agama islam)”[21].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika beliau ditanya tentang sekelompok orang yang mengatakan bahwa diri mereka telah  mencapai tingkatan bebas dari kewajiban melaksanakan syari’at, maka beliau menjawab: “Tidak diragukan lagi – menurut pandangan orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang beriman – bahwa ucapan ini adalah termasuk kekufuran yang paling besar, bahkan ucapan ini lebih buruk daripada ucapan orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mereka mengimani sebagian (isi) kitab suci mereka dan mengingkari sebagian lainnya, dan mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya, dan mereka juga membenarkan perintah dan larangan Allah U, meyakini janji dan ancaman-Nya… Kesimpulannya: Bahwa Orang-orang Yahudi dan Nashrani yang berpegang pada ajaran agama mereka yang telah dihapus (dengan datangnya agama islam) dan telah mengalami perubahan dan rekayasa, mereka ini lebih baik (keadaannya) dibandingkan orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah bebas dari kewajiban melaksanakan perintah Allah U secara keseluruhan, karena dengan keyakinan tersebut berarti mereka telah keluar dari ajaran semua kitab suci, semua syari’at dan semua agama, mereka sama sekali tidak berpegang kepada perintah dan larangan Allah U, bahkan mereka lebih buruk dari orang-orang musyrik yang masih berpegang kepada sebagian dari ajaran agama yang terdahulu, seperti orang-orang musyrik bangsa arab yang masih berpegang pada sebagian dari ajaran agama nabi Ibrahim r… Dan diantara mereka ada yang berargumentasi (untuk membenarkan keyakinan tersebut) dengan firman Allah U:

)واعبد ربك حتى يأتيك اليقين(

“Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian)” (QS. Al Hijr: 99).

Mereka berkata: makna ayat di atas adalah: “sembahlah Rabbmu sampai kamu (mencapai tingkatan) ilmu dan ma’rifat, dan jika kamu telah mencapainya maka gugurlah (kewajiban melaksanakan) ibadah atas dirimu…

(Pada Hakikatnya) ayat ini justru menyanggah (keyakinan) mereka dan tidak membenarkannya. Hasan Al Bashri berkata: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan bagi amalan orang-orang yang beriman batas akhir kecuali kematian, kemudian Hasan Al Bashri membaca ayat tersebut di atas. Dan makna “Al Yakin” dalam ayat tersebut adalah “Al Maut” (kematian) dan peristwa-peristiwa sesudahnya, (dan makna ini) berdasarkan kesepakatan semua ulama Islam, seperti yang juga Allah U sebutkan dalam Firman-Nya:

ما سلككم في سقر، قالوا لم نك من المصلين، ولم نك نطعم المسكين، وكنا نخوض مع الخآئضين، وكنا نكذب بيوم الدين، حتى أتانا اليقين

“Apa yang menyebabkan kamu (wahai orang-orang kafir) masuk ke dalam Saqar (neraka)?, mereka menjawab: Kami dahulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami ikut membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datanglah pada kami sesuatu yang diyakini (kematian)” (QS. Al Muddatstsir: 42-47).

Maka (dalam ayat ini) mereka (orang-orang kafir) menyebutkan (bahwa telah sampai kepada mereka Al Yakin/kematian) padahal mereka termasuk penghuni neraka, dan mereka ceritakan perbuatan-perbuatan mereka (yang menyebabkan mereka masuk ke dalam neraka): meninggalkan shalat dan zakat, mendustakan hari kemudian, membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya, sampai datang pada mereka “Al Yakin” (kematian)…yang maksudnya adalah: datang kepada mereka sesuatu yang telah dijanjikan, yaitu Al Yakin (kematian)”[22].

Maka ayat tersebut di atas jelas sekali menunjukkan kewajiban setiap orang untuk selalu beribadah sejak dia mencapai usia dewasa dan berakal sampai ketika kematian datang menjemputnya, dan tidak ada sama sekali dalam ajaran islam apa yang dinamakan tingkatan/ keadaan yang jika seseorang telah mencapainya maka gugurlah kewajiban beribadah atasnya, sebagaimana yang disangka oleh orang-orang ahli Tashawwuf.

Sekte-sekte dalam Ajaran Tashawwuf[23]

Kita dapat membagi ajaran tashawwuf yang ekstrim ke dalam tiga sekte:

1. Sekte Al Isyraqi, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama sifat zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa yang memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan mensucikan ruh, yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tashawwuf, akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak sampai membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah U  ke dalam diri makhluk-Nya) dan Wihdatul Wujud (kesatuan wujud Allah U  dan makhluk /Manunggaling Gusti ing kawulo – Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan), meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan dengan ajaran islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang menyimpang, seperti agama Budha dan Hindu.

2.Sekte Al Hulul, yang berkeyakinan bahwa Allah U bisa bertempat/menitis dalam diri manusia – Maha Suci Allah U dari sifat ini -. Keyakinan ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh ekstrim ahli Tashawwuf, seperti Hasan bin Manshur Al Hallaj, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh  dan disalib – Alhamdulillah U – pada tahun 309 H. Dan di dalam Sya’ir yang dinisbatkan kepadanya dia berkata:

Maha suci (Allah U ) yang Nasut (unsur/sifat kemanusiaan)-Nya telah menampakkan

rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)-Nya yang menembus

Lalu Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya

dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum

Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya

seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata[24]

Dalam sya’ir lain dia berkata:

Aku adalah yang mencintai dan yang mencintai adalah aku

kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad

Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia

Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami[25]

Memang Al Hallaj -seorang tokoh besar dan populer dikalangan orang-orang ahli Tashawwuf ini- adalah penganut sekte Al Hulul, dia meyakini Dualisme hakikat ketuhanan dan beranggapan bahwa Al Ilah (Allah U) memiliki dua tabi’at yaitu: Al Lahut (unsur/sifat ketuhanan) dan An Nasut (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan), yang kemudian Al Lahut menitis ke dalam An Nasut, maka ruh manusia –menurut Al Hallaj- adalah Al Lahut ketuhanan yang sebenarnya dan badan manusia itu adalah An Nasut.

Kemudian meskipun bandit besar ini telah dihukum mati karena kezindiqannya –sehingga sebagian orang-orang ahli Tashawwuf menyatakan berlepas diri darinya -, tetap saja ada orang-orang ahli Tashawwuf yang menganggapnya sebagai tokoh besar ahli tashawwuf, bahkan mereka membenarkan keyakinan sesat dan perbuatannya, dan mengumpulkan serta membukukan ucapan-ucapan kotornya, mereka itu di antaranya adalah Abul ‘Abbas bin ‘Atha’ Al Baghdadi, Muhammad bin khafif Asy Syirazi dan Ibrahim An Nashrabadzi, sebagaimana hal tersebut dinukil oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam kitab beliau “Tarikh Al Baghdad” (8/112).

3. Sekte Wihdatul Wujud, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Dzat Ilahi (Allah U) – maha suci Allah U dari segala keyakinan kotor mereka-. Dedengkot sekte ini adalah wong elek yang bernama Ibnu ‘Arabi  Al Hatimi Ath Thai[26] yang binasa pada tahun 638 H dan dikuburkan di Damaskus.

Dalam kitabnya “Al Futuhat Al Makkiyah”[27] dia menyatakan keyakinan kufur ini dengan ucapannya:

Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba

duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan syari’at)?

Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan

Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas?!

Dan dalam kitabnya yang lain “Fushush Al Hikam” (hal.192) dia ngelindur: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembah anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali Allah”.

Meskipun demikian, orang-orang ahli Tashawwuf malah memberikan gelar-gelar kehormatan yang tinggi kepada Ibnu ‘Arabi, seperti gelar “Al ‘Arif billah” (orang yang mengenal Allah U dengan sebenarnya), “Al Quthb Al Akbar” (pemimpin para wali yang paling agung), “Al Misk Al Adzfar” (minyak kesturi yang paling harum), dan “Al Kibrit Al Ahmar” (Permata yang merah berkilau), padahal orang ini terang-terangan memproklamirkan keyakinan Wihdatul wujud dan keyakinan-keyakinan kufur dan rusak lainnya, seperti pujian dia terhadap Fir’aun dan keyakinannya bahwa Fir’aun mati di atas keimanan, celaan dia terhadap Nabi Harun r yang mengingkari kaumnya yang menyembah anak sapi – yang semua ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al Qur’an-, dan keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nashrani adalah karena mereka hanya mengkhususkan Nabi ‘Isa r sebagai Tuhan, yang kalau seandainya mereka tidak mengkhususkannya maka mereka tidak dikafirkan.

Beberapa contoh penyimpangan dan kesesatan ajaran Tashawwuf

Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan sesat dan kufur dari tokoh-tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli Tashawwuf, yang menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya ajaran ini dari petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah.

1. Ibnu Al Faridh yang binasa pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut paham wihdatul wujud dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi Tuhan, bahkan -yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya seperti sifat-sifat wanita, sampat-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah menampakkan diri di hadapan Nabi Adam r dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam r)?! Untuk lebih jelas silahkan merujuk pada kitab “Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah” (hal. 24-33), tulisan Syaikh Abdurrahman al Wakil yang menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh ini.

2. Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya “Fushush Al Hikam” yang berisi segudang kesesatan dan kekufuran. Dalam kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah r lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau r berkata kepadanya: “Bawalah dan sebarkanlah kitab ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya”, kemudian Ibnu ‘Arabi berkata: Maka aku pun (segera) mewujudkan keinginan (Rasulullah r) itu seperti yang beliau r tentukan padaku tidak lebih dan tidak kurang, kemudian Ibnu ‘Arabi berkata:

(Kitab ini) dari Allah, maka dengarkanlah!

dan kepada Allah kembalilah![28]

3. At Tilmisani, seorang tokoh besar Tashawwuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab rujukan mereka “Fushush Al Hikam” bertentangan dengan Al Qur’an, dia  malah menjawab: Seluruh isi Al Qur’an adalah kesyirikan, dan sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan kami. Maka dikatakan lagi kepadanya: Kalau kalian mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam semesta) adalah satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi, sedangkan saudara wanita haram (disetubuhi)? Maka dia menjawab: Menurut kami semuanya (istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi orang-orang yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam, mengatakan bahwa saudara wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan haram[29].

4. Abu Yazid Al Busthami, yang pernah berkata: Aku heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?![30]

Dia juga berkata: Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan kedalam bantal dan aku letakkan di bawah pipiku[31].

5. Abu Hamid Al Ghazali, seorang yang termasuk tokoh-tokoh ahli Tashawwuf yang paling besar dan tenar, di dalam kitabnya “Ihya ‘Ulum Ad Din” ketika dia membicarakan tingkatan-tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan: Dalam Tauhid ada empat tingkatan:…Tingkatan yang kedua: Dengan membenarkan makna lafadz di dalam hati sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin, dan ini adalah keyakinannya orang-orang awam?! Tingkatan yang ketiga: mempersaksikan makna tersebut dengan jalan “Al Kasyf” (penyingkapan tabir) melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah U ) dan ini adalah tingkatan Al Muqarrabin, yaitu dengan seseorang melihat banyaknya makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia melihat semuanya bersumber dari Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan tingkatan yang keempat: dengan tidak menyaksikan di alam semesta ini kecuali satu dzat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para shiddiqin, dan diistilahkan oleh orang orang ahli tashawwuf dengan sebutan: Al Fana’ Fi At Tauhid (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia tidak melihat kecuali satu, bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri…Dan inilah puncak tertinggi dalam tauhid. Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang tidak melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan semua benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu Mukasyafat (tersingkapnya tabir)[32], dan rahasia-rahasia ilmu ini tidak boleh ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah mencapai tingkatan Ma’rifah berkata: membocorkan rahasia ketuhanan adalah kekafiran,…Sebagaimana seorang manusia dikatakan banyak bila anda melihat rohnya, jasad, sendi-sendi, urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal  dari sudut pandang lain dikatakan dia adalah satu manusia[33].

Al Ghazali juga berkata: Pandangan terhadap tauhid jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, anda pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan disyukuri, dan Dialah yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah U )[34].

6. Asy Sya’rani, seorang tokoh besar Tashawwuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul “Ath Thabaqat Al Kubra”, yang memuat biografi tokoh-tokoh ahli Tashawwuf dan kisah-kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli Tashawwuf sebagai tanda kewalian. Di antaranya kisah seorang wali(?) yang bernama Ibrahim Al ‘Uryan, orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang bulat!?[35]

Kisah lainnya tentang seorang (wali Setan) yang bernama Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal dirumah pelacuran, yang mana setiap ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan tempat tersebut, dia berkata kepadanya: Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan syafa’at untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini!? Dan diantara kisah tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat sedang menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu berkata kepadanya: Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan birahiku padanya!?[36]

Penutup

Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua bahwa ajaran Tashawwuf adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini – na’udzu billah min dzalik – seseorang bukannya makin dekat kepada Allah U, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Kemudian jika timbul pertanyaan: “kalau begitu usaha apa yang harus kita lakukan dalam upaya untuk mensucikan jiwa dan hati kita?, Maka jawabannya adalah sederhana sekali, yaitu: pelajari dan amalkan syari’at islam ini lahir dan batin, maka dengan itulah jiwa dan hati kita akan bersih[37], karena di antara tugas utama yang dibawa para Rasul r adalah  mensucikan jiwa dan hati manusia dengan mengajarkan kepada mereka syari’at Allah U, sebagaimana firman Allah:

لقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولاً من أنفسهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali ‘Imran:164).

Maka orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah dengan baik dan benar, maka dialah orang yang paling bersih dan suci hati dan jiwanya dan dialah orang yang paling bertakwa kepada Allah U, karena semua orang berilmu sepakat mengatakan bahwa: “Penghalang utama yang menghalangi seorang manusia untuk dekat kepada Allah U adalah (kekotoran) jiwanya”[38]. Oleh karena inilah Rasulullah r mempermisalkan petunjuk dan ilmu yang Allah turunkan kepada beliau r dengan air hujan yang Allah turunkan dari langit, karena sebagaimana fungsi air hujan adalah untuk menghidupkan, membersihkan dan menumbuhkan kembali tanah yang tandus dan gersang, maka demikian pula petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Rasulullah r adalah untuk menghidupkan, mensucikan dan menumbuhkan hati manusia, dalam hadits Abi Musa Al ‘Asy’ari t Rasulullah r bersabda:

إنّ مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل غيث أصاب أرضاً… الحديث

“Sesungguhnya permisalan dari petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…”[39]

Semoga tulisan ini  Allah U  jadikan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi  semuaorang yang membacanya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا الحمد لله رب العالمين.


[1]HSR Imam Muslim (7/175 – syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam), dari ‘Ali bin Abi Thalib t

[2]HSR Imam Muslim (7/176 – syarh An Nawawi), dari ‘Ali bin Abi Thalib t

[3]Syarh As Sunnah, tulisan Imam Al Barbahari (hal.61), tahqiq Syaikh Khalid Ar Radadi

[4]Lihat kitab kecil “Haqiqat Ash Shufiyyah Fii Dhau Al Kitab wa As Sunnah” (hal.13), tulisan Syaikh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali.

[5]Ash Shuffah adalah semacam teras yang bersambung dengan mesjid Rasulullah r, yang dulu dijadikan tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin y yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di Madinah, maka Rasullah r  mengizinkan mereka tinggal sementara diteras tersebut sampai mereka memiliki tempat tinggal tetap dan peng- hidupan yang cukup. (lihat kitab “Taqdis Al Asykhash” tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34)

[6]Majmu’ Al fatawa (11/5-6)

[7]Lihat “Haqiqat Ash Shufiyyah” (hal. 14)

[8]Majmu’ Al Fatawa (11/5)

[9]Majmu’ Al Fatawa (11/6)

[10]Talbis Iblis (hal 161)

[11]Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat At Tashawwuf” (hal. 13)

[12]Idem (hal.14)

[13]Lihat kitab “Haqiqat At Tashawwuf” tulisan Syaikh Shalih Al Fauzan (hal. 15)

[14]Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat   At Tashawwuf”, pembahasan: Mauqif Ash Shufiyyah Min Al ‘Ibadah wa Ad Din (hal.17-38),              dengan sedikit perubahan.

[15]Kitab “Al ‘Ubudiyyah”, tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (hal. 90), cet. Darul Ifta’, Riyadh.

[16]Kitab “Al ‘Ubudiyyah” (hal.117)

[17]Oleh karena itulah kita tidak pernah mendengar ada seorang muslim pun yang menganggap bahwa Superman dan Gatotkaca adalah wali-wali Allah, padahal mereka ini (katanya) bisa terbang di udara?!

[18]Majmu’ Al Fatawa (11/215)

[19]At Tagbir adalah semacam Qasidah yang dilantunkan dan berisi ajakan untuk zuhud dalam urusan dunia (lihat kitab “Igatsatul Lahfan” tulisan Imam Ibnul Qayyim), maka silahkan pembaca bandingkan At Tagbir ini dengan apa yang di jaman sekarang ini disebut sebagai “Nasyid Islami(?)”, apakah ada perbedaan di antara keduanya? Jawabnya: keduanya serupa tapi tak beda! Kalau demikian berarti hukum “nasyid islami” adalah…, saya ingin mengajak pembaca sekalian membayangkan semisalnya  ada seorang presiden yang hobi dengar “nasyid islami”, apa kita tidak khawatir kalau dalam upacara bendera sewaktu acara pengibaran bendera akan diiringi dengan “nasyid islami”!!?

[20]Majmu’ Al Fatawa (11/569)

[21]Kitab “Talbis Iblis”, tulisan Ibnul Jauzi (hal. 157-158).

[22]Majmu’ Al Fatawa (401-402 dan 417-418)

[23]Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali dalam kitabnya “Haqiqat Ash Shufiyyah” (hal.18-21), dengan sedikit perubahan.

[24]kitab “At Thawasiin”, tulisan Al Hallaj (hal.130)

[25]kitab “Al Washaaya”, tulisan Ibnu ‘Arabi (hal.27), -Maha Suci Allah U dari sifat-sifat kotor yang mereka sebutkan-

[26]Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al Hatimi Al Mursi Ibnu ‘Arabi, lihat “Siar Al A’lam An Nubala'” tulisan Imam Adz Dzahabi (16/354)

[27]seperti yang dinukilkan oleh DR. Taqiyuddin Al Hilali dalam kitabnya “Al Hadiyyatul Haadiyah” (hal.43)

[28]Fushush Al Hikam, dengan perantaraan kitab “Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah” (hal.19)

[29]Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, lihat “Majmu’ Al Fatawa” (13/186)

[30]Dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitabnya “Hilyatul Auliya’ ” (10/37)

[31]Hilyatul Auliya’ (10/35-36)

[32]maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tashawwuf yang bersumber dari bisikan jiwa  dan    perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah

[33]Lihat kitab “Ihya’ Al ‘Ulum Ad Din” (4/241-242)

[34]Ibid (4/83)

[35]lihat “At Thabaqat Al Kubra” (2/124)

[36]Ibid (2/129-130)

[37]untuk lebih jelasnya silahkan pembaca menelaah kitab “Manhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufus” tulisan Syaikh Salim Al Hilali, yang ditulis khusus untuk menjelaskan masalah penting ini.

[38]Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Igatsatul Lahafan” dan “Al Fawa’id”.

[39]HSR  Imam Al Bukhari (1/175 – Fathul Bari) dan Muslim (no.2282)