oleh: Abulhasan Lutfi

PENDAHULUAN

Sesungguhnya puji syukur hanya bagi Alloh, kami memujinya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada Alloh dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh maka tak seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh maka tak seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah hamba dan rasulnya.

Wahai saudaraku –semoga Alloh merahmatimu-  sesungguhnya agama Alloh itu adalah agama yang telah disempurnakan syari’atnya. Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wasallam telah menyampaikan semua amanat dari Alloh kepada umatnya, baik yang berupa kebaikan maupun kejelekan.

Alloh berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 3 :

tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu”.

Ibnu Katsir menafsirkan: “Ayat ini merupakan nikmat yang paling besar yang diturunkan oleh Alloh kepada umat ini, sebab Alloh telah menyempurnakan agama mereka (umat islam), maka mereka tidak butuh agama selainnya dan tidak pula nabi selain nabi mereka Shollallohu ‘Alaihi wasallam. Oleh karena itu, Alloh menjadikannya (nabi Muhammad) sebagai penutup para nabi dan diutus untuk manusia dan jin. Tidak ada hal yang halal melainkan telah beliau halalkan dan tidak ada hal yang haram melainkan beliau telah mengharamkannya, serta tidak ada agama melainkan telah beliau syari’atkan (ajarkan). Semua yang telah beliau sampaikan adalah benar, jujur, tidak ada yang dusta dan ketinggalan. Alloh mengkhabarkan kepada nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam dan orang-orang yang beriman bahwa Dia telah menyempurnakan keimanan bagi mereka, tidak membutuhkan tambahan selamanya, dan melengkapkannya tidak kurang selamanya”.

Maka tidak boleh bagi seseorang menambah / mengurangi syari’at islam yang sempurna ini. Barangsiapa yang beranggapan bahwa syari’at islam masih ada yang kurang / lebih, maka orang tersebut secara tidak langsung menganggap syari’at islam belum sempurna dan menuduh nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wasallam tidak menyampaikan amanat dengan sebaik-baiknya, serta menganggap dirinya beramal lebih baik daripada yang dilakukan oleh beliau Shollallohu ‘Alaihi wasallam. Akan tetapi, Alloh memerintahkan kita agar mengikuti apa saja yang di bawa oleh Rosululloh baik berupa perintah maupun larangan.

Alloh berfirman:

!$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Amat keras hukumannya” .(QS. Al-Hasyr : 7)

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# Ÿwur (#þqè=ÏÜö7è? ö/ä3n=»uHùår& ÇÌÌÈ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS. Muhammad : 33)

Barangsiapa yang mentaati Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam, maka ia telah mentaati Alloh. Demikian juga sebaliknya siapa saja yang bermaksiat kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam, maka ia sama dengan bermaksiat kepada Alloh. Alloh ta’ala berfirman:

`¨B ÆìÏÜムtAqߙ§9$# ô‰s)sù tí$sÛr& ©!$# ( `tBur 4’¯<uqs? !$yJsù y7»oYù=y™ö‘r& öNÎgøŠn=tæ $ZàŠÏÿym ÇÑÉÈ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS. An-Nisa’ 80)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para sahabatku sepeninggalku, gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham”. (HR. ibnu majah, Abu Dawud, dari hadits al-‘Irbadh bin Sariyah).

Beliau juga mewasiatkan kepada umatnya agar menjauhi perkara-perkara yang baru di dalam agama, sebab hal itu adalah sejelek-jelek perkara. Sebagaimana sabda beliau dalam khutbahnya:

فإن أصدق الحديث كتاب الله وإن أفضل الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار (رواه أحمد ومسلم والنسائي وابن ماجه عن جابر)

“Maka sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Alloh Ta’ala, petunjuk yang paling utama adalah petunjuk Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wasallam, dan perkara yang paling jelek adalah perkara-perkara baru (di dalam agama), setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan kesesatan (tempatnya) adalah di neraka”. (HR. Muslim, Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir radhiyallohu ‘anhu)

Di dalam hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa setiap perkara yang baru (bid’ah) di dalam agama adalah sesat. Perkara yang baru yang dimaksud oleh nabi adalah perkara-perkara baru di dalam urusan agama, bukan perkara-perkara baru di dalam urusan dunia seperti barunya teknologi dsb. Sebab hukum asal segala sesuatu urusan dunia adalah boleh, sampai datang dalil yang melarangnya.

Berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

ö@è% ô`tB tP§ym spoYƒÎ— «!$# ûÓÉL©9$# ylt÷zr& ¾Ínϊ$t7ÏèÏ9 ÏM»t6Íh‹©Ü9$#ur z`ÏB É-ø—Ìh9$# 4 ö@è% }‘Ïd tûïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Zp|ÁÏ9%s{ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 3 y7Ï9ºx‹x. ã@Å_ÁxÿçR ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqçHs>ôètƒ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS. Al-A’rof : 32)

Sedangkan hukum asal dalam urusan agama adalah tidak boleh dikerjakan, sampai ada dalil yang mensyari’atkannya.

Berdasarkan hadits nabi  Shollallohu ‘Alaihi wasallam:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada darinya, maka ia tertolak”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Mengadakan perkara-perkara baru di dalam Islam di samping perbuatan yang sangat jelek, tidak diterima oleh Alloh Ta’ala, juga pembuat bid’ah tersebut mendapat laknat dari Alloh Ta’ala, para malaikat  dan manusia semuanya. Para ulama mengatakan bahwa termasuk salah satu ciri dosa besar adanya ancaman siksaan di dunia atau di akhirat serta laknat dari Alloh Subhanahu wata’ala.

Sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam:

مَنْ أحْدَثَ حَدَثاً أوْ آوَى مُحْدِثاً فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ الله وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أجْمَعِينَ (أخرجه البيهقي في الدلائل عن عليّ رضي الله عنه)

“Barangsiapa yang membuat suatu perkara baru (dalam agama) atau melindungi si pembuat perkara baru tersebut, maka ia berhak mendapat laknat dari Alloh Ta’ala, para malaikat dan manusia semuanya”. (HR. Abu Dawud dalam kitab Ad-dala’il dari riwayat Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu)

Alloh Ta’ala menghalangi taubat pelaku bid’ah, sebab ia merasa apa yang dilakukannya tersebut merupakan amal sholih sehingga tidak membutuhkan taubat.

Sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوبَةَ عَن كُلِّ صَاحِبِ بِدعةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعتَهُ

Dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhya Alloh Ta’ala menghalangi taubat dai setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”. (HR. Thobrony dengan sanad yang hasan, lihat dalam kitab ‘Sohihu targhib wat tarhib’ 1/12)

Bid’ah yang dilakukan oleh seseorang tidaklah diterima oleh Alloh Ta’ala, meskipun ia menganggap amal tersebut baik. Sebab, yang dimaksud amal sholih adalah amal yang memiliki dua perkara. Pertama, ikhlash karena Alloh Ta’ala semata. Kedua, mengikuti contoh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam. Sebagaimana Ibnu Katsir dalam menafsirkan kata ‘amalan sholihan’  yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah amal yang ikhlas mengharap wajah Alloh Ta’ala dan benar menurut tuntunan syari’at Shollallohu ‘Alaihi wasallam. Misalnya bisa dilihat dalam tafsir Ibnu Katsir surat Al-Kahfi ayat 110.

Maka hendaknya seorang muslim merasa takut dari murka Alloh Ta’ala dan hendaknya ridho dengan apa yang telah ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Bukan sebaliknya, ia malah membuat tata cara ibadah yang tidak ada syari’atnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagaimana yang diinginkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Sebagian orang berhujjah dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, tetapi tidak sesuai dengan pemahaman yang benar sebagaimana pemahaman para sahabat dalam memahami nash tersebut. Oleh karena itu, memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits harus sesuai dengan pemahaman generasi salaf (para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in)-Rodhiyallohu ‘anhum ajma’in-, sebab mereka adalah generasi yang dipuji oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam sebagaimana sabda beliau:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي , ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ , ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah kurunku (para sahabat), kemudian kurun berikutnya (tabi’in), kemudian kurun berikutnya (tabi’ut tabi’in)”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

Dengan demikian, apabila seseorang memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak sesuai dengan pemahaman generasi salaf maka ia dimungkinkan lebih banyak mendapat kekeliruan / kesalahan daripada kebenaran.

Sebagian yang lain, mereka mengamalkan agamanya dengan taklid (mengikuti seseorang tanpa mengetahui dalilnya) kepada madzhab, kyai, ustadz, gerakan dakwah, atau organisasi tertentu. Padahal, para imam ahlus sunnah empat madzhab –rohimahumulloh– semua melarang para pengikutnya bertaklid pada pendapatnya. Maka seorang muslim tidak boleh fanatik pada golongan / madzhab tertentu.

Berikut kutipan perkataan empat imam tersebut:

  1. 1. Imam Abu Hanifah Rohimahullohu:

إذا صح الحديث فهو مذهبي

“Apabila suatu hadits dinyatakan shohih, maka hadits tersebut adalah madzhabku”. (Ibnu ‘Abidin di dalam ‘Al-Hasyiah’ 1/63).

  1. 2. Imam Malik Rohimahullohu:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب , فانظروا في رأيي, فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه , وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Aku hanyalah manusia (biasa), terkadang salah dan terkadang benar, maka lihatlah pendapatku, setiap pendapatku yang sesuai dengan kitab dan sunnah maka ambillah pendapat tersebut, dan  setiap pendapatku yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah maka tinggalkan pendapat tersebut”. (Ibnu Abdil Barr di dalam ‘Al-Jami’ 2/32).

  1. 3. Imam Syafi’i Rohimahullohu:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله , فقولوا بسنة رسول الله, ودعوا ما قلت

“Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku (pendapat) yang menyelisihi sunnah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam, maka berpendapatlah sesuai sunnah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku”. (An-Nawawy di dalam ‘Majmu’ 1/63)

4. Imam Ahmad Rohimahullohu:

لا تقلدني و لاتقلد مالكا و لا الشافعي و لا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah bertaklid kepadaku, jangan pula kepada Imam Malik, Syafi’i, Auza’i, Tsauri, dan ambillah pendapat mereka dari mana mereka mengambil (berdalil)”.(Ibnul Qoyyim dalam ‘Al-I’lam’ 2/302)

Pada uraian singkat di atas dapat kita ambil manfaat bahwa seseorang akan menyimpang dari agamanya apabila:

  1. Tidak mau mengamalkan syari’at Islam ( dengan meninggalkan perintah maupun melanggar larangan).
  2. Mengamalkan amalan dalam agama Islam suatu amalan yang tidak disyari’atkan, tanpa dalil yang shohih.
  3. Memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak sesuai dengan pemahaman generasi salaf.
  4. Menolak kebenaran (sombong) dan mengikuti hawa nafsunya.
  5. Fanatik golongan dan madzhab tertentu.

Sebagai manusia biasa, tentu tulisan ini masih ada kekurangan atau kesalahan. Saya berharap bagi para pembaca yang mendapatkan kekurangan atau kesalahan pada tulisan ini agar memberikan nasihat atau kritikan bai secara langsung maupun tidak, sehingga tulisan ini menjadi lebih baik dan bermanfaat. Saya memohon kepada Alloh agar tulisan ini bermanfaat bagi saya pribadi dan kaum muslimin semua, serta menjadi timbangan amal kebaikan di sisi Alloh ta’ala. Wallohu waliyyut taufiq.

BAB I: DZIKIR BERJAMA’AH

Ketahuilah wahai saudaraku, setiap apa yang dikerjakan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam adalah sunnah dan setiap perbuatan yang ditinggalkan oleh beliau juga merupakan sunnah.

Dzikir secara umum bermakna mengingat Alloh dengan berbuat taat dan menjauhi maksiat. Dzikir bisa dilakukan dengan hati misalnya; rasa takut, rasa harap, rasa cinta kepada Alloh. Juga dapat dilakukan dengan anggota badan misalnya; dengan berbuat ketaatan dan meninggalkan maksiat. Dzikir juga bisa dilakukan dengan lisan yaitu dengan mengucap kalimat thoyyibah, amar ma’ruf nahi mungkar dan lain sebagainya.

Dzikir secara khusus bermakna bacaan wirid-wirid yang berisi do’a, pujian dan permintaan ampun kepada Alloh yang diucapkan dengan lisan.

Perintah dan keutamaan dzikir sangat banyak sekali baik di dalam Al-Qur’an maunpun Al-Hadits, di antaranya terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 41-42:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0øŒ$# ©!$# #[ø.ό #ZŽÏVx. ÇÍÊÈ   çnqßsÎm7y™ur Zotõ3ç/ ¸x‹Ï¹r&ur ÇÍËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, dzikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda:

مَثلَ الذي يَذكرُ ربَّه والذي لايَذْكرُ ربه مَثلُ الحي والميِّت

“Perumpamaan orang yang ingat Robb-nya dengan orang yang tidak ingat Robb-nya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati”. (HR. Al-Bukhori)

Dzikir berjama’ah: segala bentuk dzikir, wirid atau do’a yang dilakukan sebagian manusia dengan berkelompok setelah mengerjakan sholat-sholat wajib atau pada kesempatan lain dengan cara bersama-sama dipimpin oleh seorang imam / tanpa seorang imam yang memimpin mereka, namun mereka melakukannya secara berjama’ah dengan satu suara / bacaan yang sama.

Secara historis dzikir berjama’ah mulai muncul pada masa sahabat Rodhiyallohu ‘anhu. Dan ketika para shahabat mengingkari perkara bid’ah yang mulai nampak pada saat itu, maka perkembangannya pun mulai surut.

Dzikir berjama’ah dilarang berdasarkan argumen berikut:

Dzikir berjama’ah tidak pernah diperintahkan dan dianjurkan oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam, dan sekiranya hai ini beliau perintahkan / anjurkan, niscaya akan termaktub (tertulis) dalam kitab-kitab hadits.

Syaikhul Islam dalam ‘Al-Fatawal kubro’ 2/132:

“Tidak ada seorangpun mengabarkan bahwa setiapkali Nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam selesai mengerjakan sholat dengan para shahabat beliau berdo’a bersama-sama dengan mereka”

Generasi salaf juga mengingkari dzikir berjama’ah:

Seorang lelaki mengabarkan kepada Ibnu Mas’ud ada beberapa halaqoh yang sedang berkumpul (dengan membawa kerikil-kerikil) dalam masjid menunggu sholat, setiap halaqoh ada satu orang menyeru kepada mereka : “Bertakbirlah kalian semua kepada Alloh seratus kali, bertahlillah seratus kali, dan bertasbihlah seratus kali”, maka beliau (Ibnu Mas’ud) mendatangi mereka seraya berkata:

والذي نفسي بيدِهِ إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى مِنْ ملَّة محمدٍ، أو مُفْتَتِحُوا بابِ ضلالَةٍ قالوا: واللَّهِ يا أبا عبدِالرحمنِ ما أرَدْنا إلاَّ الخيرَ، قالَ وكَمْ مِنْ مُرِيدٍ للخيرِ لنْ يُصِيبَهُ

“Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian menganggap telah mengamalkan millah (ajaran) yang lebih benar daripada apa yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wasallam, atau kalian telah membuka pintu kesesatan?”. Mereka menjawab: ‘Demi Alloh, wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan sesuatu melainkan kebaikan’. Maka Ibnu Mas’ud berkata: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun ia tidak pernah mendapatkannya”. (HR. Ad-Darimiy dalam sunannya 1/79 no.204)

Demikian juga Imam Syafi’i  dalam kitab ‘Al-Umm’ 1/111 berkata: “Dan aku memilih imam dan makmum agar berdoa kepada Alloh setelah melakukan sholat dengan melembutkan suara dalam berdzikir kecuali seorang imam yang ingin mengajarkan kepada para makmumnya”.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz (mantan mufti ‘am kerajaan saudi arabia) berkata dalam ‘fatawa ‘alad darb’ 1/358 :

“Berkumpul dan berdzikir berjama’ah adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar hukum dalam agama dan wajib setiap muslim untuk meninggalkan perkara bid’ah, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada darinya, maka ia tertolak”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Adapun hadits yang dijadikan argumen oleh mereka yaitu hadits Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu:

إِنَّ للّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً، فُضُلاً. يَبتَغُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ. فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِساً فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ. وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضاً بِأَجْنِحَتِهِمْ. حَتَّىٰ يَمْلأُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا. فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَىٰ السَّمَاءِ. قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ اللّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الأَرْضِ، يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ. قَالَ: وَمَاذَا يَسْأَلُونِي؟ قَالُوا: يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ. قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: لاَ. أَيْ رَبِّ قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي؟. قَالُوا: وَيَسْتَجِيرُونَكَ. قَالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي؟ قَالُوا: مِنْ نَارِكَ. يَا رَبِّ قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: لاَ. قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي؟. قَالُوا: وَيَسْتَغْفِرُونَكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا. قَالَ: فَيَقُولُونَ: رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ. عَبْدٌ خَطَّاءٌ. إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ. قَالَ: فَيَقُولُ: وَلَهُ غَفَرْتُ. هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَىٰ بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

“Sesungguhnya Alloh mempunyai malaikat-malaikat yang mulia, mencari majlis-majlis dzikir. Apabila mereka menjumpai majlis yang di dalamnya terdapat dzikir, maka para malaikat tersebut ikut duduk bersama mereka. Para malaikat tersebut membentangkan sayap-sayapnya antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga memenuhi antara mereka dan langit dunia. Dan apabila mereka telah pergi ( dari majlis dzikir), maka para malaikat naik ke langit, lalu Alloh bertanya kepada mereka padahal Alloh lebih mengetahui mengenai mereka. “Darimana kalian datang?” Malaikat menjawab: “Kami datang dari hamba-hamba-Mu di bumi, mereka membaca tasbih, tahlil, tahmid dan berdo’a kepada-Mu. Alloh bertanya: “Apa yang diminta hamba-Ku?” Malaikat menjawab: “Mereka memohon surga-Mu”. Alloh bertanya: “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?”. Para malaikat menjawab: “Tidak wahai Robb kami”. Alloh bertanya: “Bagaimana kalau mereka telah melihat surga-Ku?”. Para malaikat berkata: “Mereka memohon perlindungan kepada-Mu”. Alloh bertanya: “Mereka memohon perlindungan-Ku dari apa?”. Para malaikat menjawab: “Dari neraka-Mu wahai Robb kami”. Alloh bertanya: “Apakah mereka mengetahui neraka-Ku?”. Para malaikat menjawab: “Tidak”. Alloh bertanya: “Bagaimana kalau mereka telah melihat neraka-Ku?”. Para Malaikat berkata: “Mereka memohon ampunan-Mu”. Maka Alloh berkata: “Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka, dan Aku juga telah memberi apa yang mereka minta dan Aku juga telah melindungi mereka dari apa yang mereka takutkan”. Malaikat berkata: “Wahai Robb kami, di antara mereka ada seseorang yang mempunyai kesalahan, dia lewat dan duduk bersama mereka”. Alloh berfirman: “Aku telah mengampuninya, orang yang duduk di majlis dzikir tidaklah celaka”. (HR. Muslim 2689)

Sungguh hadits yang mereka jadikan landasan tidaklah menunjukkan tentang perintah dan keutamaan dzikir berjama’ah (dengan suara bersama-sama, dengan bacaan tertentu), melainkan keutamaan dzikir dan majlis dzikir, duduk bersama orang yang senantiasa berdzikir atau duduk bersama orang yang sholih (berdzikir yang bersifat mutlak tanpa menentukan sifat / jumlah bacaan dzikir tertentu dan dilakukan sendiri-sendiri) dan kedua hal ini sangatlah berbeda.

Dari uraian di atas, jelaslah bagi kita bahwa dzikir berjama’ah tidak ada asalnya dalam agama Islam, karena nabi tidak pernah menyampaikannya, tidak pula para shahabat  ketika berdzikir mereka melakukannya berjama’ah. Tidak pula dilakukan oleh para salafus sholih (generasi salaf). Bahkan mereka mengingkari bagi siapa saja yang melakukan amalan ini, sehingga hal ini tidak berkembang. Disamping itu, dzikir berjama’ah juga menyerupai apa yang dilakukan oleh kaum Nashrani di gereja mereka, tidak ada perbedaan melainkan tempat dan bacaannya saja.

Hal ini ada kemungkinan disebabkan oleh anggapan sebagian orang bahwa mengamalkan ibadah dengan cara berjama’ah lebih baik daripada dilakukan sendiri-sendiri. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak semua amal ibadah dilakukan dengan cara berjama’ah itu akan menjadi lebih baik. Misalnya, jika kita melaksanakan sholat tahiyyatul masjid / rowatib dengan berjama’ah, apakah bisa dikatakan hal ini lebih baik daripada dilakukan dengan sendiri-sendiri? Tentu jawabnya: tidak, sebab Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam dan para sahabat tidak pernah melakukan hal demikian, bahkan hal tersebut termasuk bid’ah yang mungkar. Jika dikatakan : Apa ada dalil yang melarang sholat tahiyyatul masjid / rowatib berjama’ah? Maka jawabnya adalah larangan bid’ah tidak tersebut secara rinci tentang semua jenis bid’ah, namun larangannya secara umum yaitu meliputi semua perkara baru dalam urusan agama adalah bid’ah. Sebagaimana larangan narkoba dan rokok, apakah ada dalil yang melarang narkoba / rokok? Tentu di dalam Al-Qur’an dan hadits tidak terdapat kata narkoba atau rokok, namun larangannya mencakup semua hal yang dapat membahayakan tubuh manusia, dilarang oleh agama. Sebagaimana firman Alloh :

(#qà)ÏÿRr&ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ‰÷ƒr’Î/ ’n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡ ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqoroh 195)

BAB II: TAHLILAN

Tahlilan secara bahasa berasal dari kata ‘Hallala-Yuhallilu-Tahliilan’ yang berarti mengucap kalimat ‘Laa ilaaha illalloh’. Sedangkan pengertian tahlilan menurut masyarakat kita adalah berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dengan membaca dzikir, do’a, atau Al-Qur’an setelah mayit dikebumikan, dengan niat memintakan ampun mayit kepada alloh atau mengirimkan pahala bacaan dzikir untuk si mayit. (atau biasa disebut dengan selamatan kematian). Akhirnya acara tersebut tidak hanya dilakukan ketika ada seseorang meniggal dunia saja, namun berubah menjadi acara rutin setiap pekan atau setiap bulan.

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdulloh Al-Bajaliy, ia berkata:

كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت، وصنيعة الطعام بعد دفنه، من النياحة

“Kami (para sahabat) memandang / menganggap bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah mayit di kebumikan termasuk dari bagian meratap”. (HR. Ibnu Majah 1612 dan ini adalah lafadznya, Ahmad dalam musnadnya 2/204). Hadits ini shohih dan rowinya semua tsiqoh (dipercaya) atas syarat al-Bukhori dan Muslim.

Para ulama Islam termasuk di dalamnya para imam madzhab yang empat serta ahli hadits bersepakat mengenai hadits ini akan keshohihannya, tidak menolaknya dan bersepakat mengamalkannya dari zaman ke zaman.

Hadits / atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita bahwa acara berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ termasuk bid’ah mungkar, dan akan bertambah lagi bid’ahnya apabila diadakan acara tahlilan atau selamatan pada hari pertama dan seterusnya. Hukum di atas berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para shahabat yang telah memasukan perbuatan tersebut ke dalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit haram, bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyah.

Imam Syafi’i Rohimahullohu mengatakan di dalam kitab ‘al-Umm’ 1/318 :

وأكرهُ المأتَمَ وهِيَ الجماعةُ، وإِنْ لَمْ يْكنْ لهم بُكاءٌ

“Aku membenci ma’tam yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”.

Perkataan imam kita di atas, jelas sekali tidak bisa ditakwil / ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan tahlilan?!

Ketika mendengar Ja’far bin Abu Tholib meninggal, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda:

اصْنَعُوا لآِلِ جَعْفَرٍ طَعَاماً. فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ، أَوْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukkan mereka (musibah kematian)”. (HR. Imam Syafi’i 1/317, Abu Dawud, Ibnu Majah 1/514, Ahmad 1/205).

Di dalam hadits di atas menunjukkan bahwa membuat makanan untuk ahli mayit adalah dianjurkan, sebab mereka berada dalam kesedihan. Bukan sebaliknya, ahli mayit yang membuatkan makanan untuk para tetangganya ketika mereka berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit.

Adapun para tamu yang datang dari tempat yang jauh atau dekat baik dari sanak keluarganya maupun bukan, maka tidak mengapa ahli mayit memberikan kepada mereka hidangan ala kadarnya sebagai penghormatan kepada para tamu. Bukan sengaja berkumpul dan mengadakan acara makan-makan.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya”. (HR. Al-Bukhori).

Sebagian mereka ada berdalil dengan hadits ‘Ashim bin Kulaib Al-Anshory:

خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على القبر يوصي الحافر أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعي امرأة فجاء وجيء بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا فنظر آباؤنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يلوك لقمة في فمه ثم قال أجد لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها فأرسلت المرأة قالت يا رسول الله إني أرسلت إلى البقيع يشتري لي شاة فلم أجد فأرسلت إلى جار لي قد اشترى شاة أن أرسل إلي بها بثمنها فلم يوجد فأرسلت إلى امرأته فأرسلت إلي بها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أطعميه الأسارى

“Kami keluar mengantar jenazah bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam , beliau berada di atas kuburan (yang sedang di gali) sedang memberika wasiat kepada orang yang sedang menggali liang tersebut: “Luaskan sebelah kedua kaki dan kepalanya”, dan tatkala pulang ada seseorang yang disuruh oleh seorang wanita datang kepada beliau, kemudian dihidangkan makanan, lalu beliaupun mengambilnya dan diberikan kepada orang-orang, merekapun memakannya. Bapak-bapak kami melihat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam juga mengunyahnya, beliau berkata: “Sungguh aku mengetahui daging ini dari kambing yang diambil tanpa seizin pemiliknya”. Kemudian wanita tersebut dipanggil, ia berkata: Wahai Rosululloh, aku mengutus orang ke Baqi (pasar kambing) agar ia membeli kambing untukku, tapi aku tidak mendapatkan, lalu aku pergi ke tetanggaku yang telah membeli kambing, aku berikan uangnya tapi pemiliknya tidak ada, lalu aku kasihkan kepada isterinya dan kambing tersebut diberikan kepadaku. Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Berikan daging tersebut kepada para tawanan”. (Shohih  Abu Dawud 2/641)

Kisah di atas tidak menunjukkan nabi dan sahabatnya sengaja berkumpul di tempat ahli mayit, namun beliau dan para sahabat berniat pulang, lalu di tengah jalan diberikan makanan kepada mereka. Yang terlarang adalah berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah mayit di kebumikan serta menjadikannya sebagai kebiasaan, terutama pada hari-hari tertentu. Sebab hal ini termasuk bentuk ratapan menurut para sahabat Rodhiyallohu ‘anhum.

كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت، وصنيعة الطعام بعد دفنه، من النياحة

“Kami (para sahabat) memandang / menganggap bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah mayit di kebumikan termasuk dari bagian meratap”. (HR. Ibnu Majah)

Acara tahlilan / selamatan orang mati yang kita kenal yaitu dilakukan pada hari ke 1-7, 40, 100, 1 tahun (haul) bahkan sampai seribu hari dari kematian mayit, tidak lain hanyalah warisan adat dari nenek moyang kita yang beragama Hindu. Padahal meniru kebiasaan yang dilakukan oleh orang kafir merupakan hal yang dilarang di dalam agama Islam, meskipun bacaan dan tempatnya berbeda.

Sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam:

من تشبه بقوم فهو منهم رواه أبو داود

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka”. (HR. Abu Dawud)

MEMBACA SURAT YASIN SETELAH KEMATIAN SESEORANG

Sering kita jumpai, setelah seseorang meninggal maka dibacakan surat Yasin. Pada umumnya mereka berdalil dengan sebuah hadits:

اقرؤوا ياسين على موتاكم

“Bacalah surat Yasin atas orang mati kalian”. (HR. Abu Dawud no.3121)

Maksud dari hadits ini adalah bacaan surat Yasin dianjurkan ketika ada seseorang yang menjelang ajal dan bukan setelah ia meninggal dunia sebagaimana anjuran untuk menalqin orang yang menjelang ajal. Akan tetapi hadits ini mempunyai beberapa kelemahan:

  1. Di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Utsman, ia adalah seorang majhul (perawi yang tidak dikenal). Ibnu Hibban bermudah-mudah dalam mensahihkan hadits tersebut dan memasukkan Abu Utsman / perawi majhul tersebut dalam kitab ‘ats tsiqot’.
  2. Abu Utsman meriwayatkan dari bapaknya, bapaknya perawi yang majhul pula.
  3. Iththirob (guncang sanadnya), riwayat yang satu bercerita dari Abu Utsman, dari bapaknya, dari Ma’qil….,riwayat yang lain bercerita dari Abu Utsman, dari Ma’qil……

Setelah kita ketahui kelemahan hadits ini,maka tidak boleh mengamalkannya baik dibaca ketika seseorang menjelang ajal atau setelah ia meninggal dunia. Demikian juga membaca Al-Qur’an dan talqin setelah mayit dikebumikan tidak ada hadits yang menganjurkannya, melainkan hadits dari Abu Umamah yang perawinya terdapat Sa’id Al-Azdy yaitu perawi yang majhul. Dan perkataan Imam Syafi’i dan para sahabatnya sebagaimana yang disebutkan oleh imam Nawawi dalam kitab ‘al-Adzkar’, entah dalam kitab apa imam Nawawy menukil perkataan imam Syafi’i tersebut. Jika pendapat seseorang tidak berdasarkan hadits yang sahih maka pendapat tersebut tidak bisa diterima. Wallohu a’lam


BAB III: KIRIM PAHALA KEPADA MAYIT

Para ulama sepakat bahwa  pahala sedekah, puasa, dan haji yang diperuntukkan / dihadiahkan kepada mayit akan sampai, sebagaimana hadits-hadits yang ada mengenai hal tersebut. Di antaranya adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ : إنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dari Abi hurairah Rodhiyallohu ‘anhu, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam : ‘Bapak saya telah meninggal, dia meninggalkan harta dan tidak meninggalkan wasiat. Apakah dapat menebus dosanya jika aku bersedekah sebagai gantinya?’. Nabi menjawab : “Ya,( bisa pen-)”. (HR. Muslim 11/70).

خَرَجَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ وَحَضَرَتْ أُمُّهُ الْوَفَاةُ بِالْمَدِينَةِ فَقِيلَ لَهَا: أَوْصِي فَقَالَتْ: فِيمَ أُوصِي؟ الْمَالُ مَالُ سَعْدٍ فَتُوُفِّيَتْ قَبْلَ أَنْ يَقْدَمَ سَعْدٌ فَلَمَّا قَدِمَ سَعْدٌ ذُكِرَ ذٰلِكَ لَهُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ يَنْفَعُهَا أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: نَعَمْ

Sa’ad bin Ubadah keluar bersama nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam pada sebagian pertempuran, sedang ibunya yang ada di Madinah meninggal dunia. Sebelum meninggal ada orang yang menyuruhnya agar ia berwasiat: ‘Berwasiatlah!’. Ia (ibu Sa’ad) menjawab: ‘Apa yang aku wasiatkan? Harta ini adalah harta Sa’ad’. Maka ia meninggal sebelum Sa’ad datang, tatkala Sa’ad telah datang diceritakan tentang kejadian tersebut. Kemudian Sa’ad bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam: Apakah bisa bermanfaat baginya apabila aku bersedekah atasnya? Maka nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam menjawab: “Ya”. (HR. An-Nasa’i dalam kitab ‘Al-Mujtaba’).

أن امرأة من جهينة جاءت إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت أفأحج عنها ؟ قال ( نعم حجي عنها أرأيت لو كان على أمك دين أكنت قاضية ؟

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ada seorang wanita dari suku Juhainah datang kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam, ia berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk melakukan haji tetapi ia belum haji sampai meninggal dunia, apakah aku boleh berhaji untuknya? Beliau menjawab: “Ya, berhajilah untuknya, bagaimana pendapatmu sekiranya ibumu memiliki hutang apa kamu pula yang melunasinya?”. (HR. Al-Bukhori 2/656)

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ( من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Dari Aisyah Rodhiyallohu ‘anha: bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mati sedang ia mempunyai hutang puasa, maka walinya yang menggantikan puasanya”. (HR. Al-Bukhori 2/690)

Hutang puasa maksudnya adalah kewajiban puasa yang belum dilakukan oleh mayit dari puasa wajib seperti puasa bulan romadhon, puasa nadzar dan puasa kaffaroh. Abu Dawud mengatakan bahwa puasa tersebut adalah puasa nadzar, imam Ahmad juga berpendapat demikian (sunan Abi Dawud hadits no.2401). Sedangkan wali yang dimaksud adalah setiap kerabat meskipun bukan termasuk ahli warisnya. Ini bukan merupakan kewajiban wali mengganti puasa mayit, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam ‘Fathul Bari’.

Kemudian ada hadits dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam ketika akan menyembelih kurban, beliau berkata:

باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد

“Bismillah, ya Alloh terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya dan ummatnya”. (HR. Muslim 3/1557)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يؤتى بالرجل المتوفى عليه الدين فيسأل ( هل ترك لدينه فضلا ) . فإن حدث أنه ترك لدينه وفاء صلى وإلا قال للمسلمين ( صلوا على صاحبكم ) . فلما فتح الله عليه الفتوح قال ( أنا أولى بالمؤمنين من أنفسهم فمن توفي من المؤمنين فترك دينا فعلي قضاؤه ومن ترك مالا فلورثته

Dari Abu Hurairah, bahwa di datangkan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam orang (mukmin) yang telah wafat, lalu beliau bertanya: “Apakah menyisakan harta untuk membayar hutangnya?”. Jika dikatakan orang yang wafat tersebut menyisakan harta untuk membayar hutangnya, maka beliau mensholatinya, dan jika tidak menyisakan harta maka beliau berkata kepada kaum muslimin (para sahabat): “Sholatilah teman kalian!”. Setelah Alloh memberikan banyak kemenangan kepada beliau, beliau bersabda: “Akulah yang lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, barangsiapa di antara orang-orang mukmin wafat, sedangkan ia memiliki hutang, maka akulah yang membayarnya, dan barangsiapa yang meninggalkan harta (yang tidak mempunyai ahli waris) akulah yang mewarisinya”. (HR. Al-Bukhori 2/805)

Akan tetapi, amal perbuatan selain yang terdapat dalam hadits di atas para ulama berbeda pendapat, apakah pahala tersebut sampai atau tidak?

Para ulama yang berpendapat sampainya pahala / manfaat kepada mayit dari orang yang hidup, menggunakan dalil di atas dan mengkiyaskannya dengan amal-amal sholih yang lain.

Adapun para ulama yang berpendapat bahwa amal tersebut tidak sampai, mereka beralasan bahwa seorang manusia memperoleh pahala atau dosa dari Alloh adalah akibat dari perbuatannya dan juga dari atsar perbuatannya sendiri, sehingga semua kembalinya adalah berasal dari dirinya sendiri, bukan dari orang lain.

Allah berfirman:

‘@ä. ¤§øÿtR $yJÎ/ ôMt6|¡x. îpoY‹Ïdu‘ ÇÌÑÈ

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (Q.S. 74 Al Muddatstsir :38)

Maksudnya setiap diri pribadi manusia itu tergantung apa yang menjadi perbuatannya atau usahanya sendiri, tidak tergantung apa yang menjadi perbuatan atau usaha orang lain. Jika orang lain meniru perbuatan kita yang baik atau yang buruk lantas kita terkena akibat perbuatan orang lain, itu namanya atsar atau bekas dari perbuatan kita sendiri yang dihidup-hidupkan oleh orang lain.

$¯RÎ) ß`øtwU ÌÓ÷ÕçR 4†tAöqyJø9$# Ü=çGò6tRur $tB (#qãB£‰s% öNèdt»rO#uäur 4 ¨@ä.ur >äóÓx« çm»uZøŠ|Áômr& þ’Îû 5Q$tBÎ) &ûüÎ7•B ÇÊËÈ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Yaasin : 12)

Maksudnya bahwa apa saja kebaikan atau keburukan yang telah kita kerjakan dan bekas-bekas dari pebuatan kita adalah Alloh tuliskan untuk kita. Apabila kita berbuat baik dan ditiru serta diamalkan orang lain sepeninggal kita, maka kita mendapat pahala seperti orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Demikian juga sebaliknya, apabila kita berbuat jelek lalu diikuti orang sepeninggal kita, maka kita mendapat dosa seperti orang  yang melakukannya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. (lihat tafsir Ibnu Katsir).

Alloh berfirman:

tPöqu‹ø9$$sù Ÿw ãNn=ôàè? Ó§øÿtR $\«ø‹x© Ÿwur šc÷rt“øgéB žwÎ) $tB óOçFZà2 tbqè=yJ÷ès? ÇÎÍÈ

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Yaasin : 54)

Maksudnya bahwa Alloh akan memberikan balasan pahala atau dosa kepada seorang hamba-Nya adalah dari apa yang telah dikerjakan oleh hamba itu sendiri atau atsar dari perbuatannya sendiri.

Alloh juga berfirman:

ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ ¾ÏmÅ¡øÿuZÎ=sù ( ô`tBur uä!$y™r& $pköŽn=yèsù ( §NèO 4’n<Î) óOä3În/u‘ šcqãèy_öè? ÇÊÎÈ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, Maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, Maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”. (Q.S. 45 Al Jatsiyah:15)

Maksud ayat ini sama dengan ayat 54 Surat Yasin dan ayat 38 Surat Al Muddatstsir tersebut diatas. Selanjutnya marilah kita baca dengan baik, firman Alloh berikut ini:

žwr& â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& ÇÌÑÈ

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. (Q.S. 53 An Najm:38)

Tafsir ayat ini diterangkan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 258 pada baris 12-13. Maksudnya setiap orang berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri dengan kekufuran atau sesuatu perbuatan dosa, maka sesungguhnya dosanya itu hanya menimpa atas dirinya, tidak dipikulkan dosa itu kepada orang lain, sebagaimana firman Allah:

Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 2”t÷zé& 4 bÎ)ur äíô‰s? î’s#s)÷WãB 4’n<Î) $ygÎ=÷H¿q Ÿw ö@yJøtä† çm÷ZÏB ÖäóÓx« öqs9ur tb%x. #sŒ #’n1öè% 3

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1252]. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya”. (Q.S. 35 Faathir:18)

Kemudian disambung dengan ayat:

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Q.S. 53 An Najm:39)

Tafsir ayat ini diterangkan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 258, baris 13-17: Sebagaimana tidak dipikulkan kepadanya dosa orang lain, demikian juga tidak memperoleh pahala kecuali apa yang telah dia lakukan untuk dirinya. Dan dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i Rohimahullohu dan orang yang mengikuti madzhabnya mengeluarkan fatwanya: “Bahwasannya hadiah pahala bacaan itu tidak akan sampai kepada orang mati, karena pahala itu bukan dari amal mereka dan bukan dari usaha mereka. Dan oleh karena itu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam tidak menganjurkan kepada ummatnya, tidak mendorong mereka untuk hadiah pahala bacaan, tidak memberi petunjuk mereka kepadanya, baik dengan ketetapan maupun dengan isyarat, dan juga tidak dinukil (diambil pelajaran) yang demikian itu dari seorangpun dari shahabat Rodhiyallohu ‘anhu. Andaikan adanya (hadiah pahala bacaan itu) baik, niscaya mereka (para shahabat) telah mendahului kita kepadanya. Mengenai bentuk taqorrub (mendekatkan diri kepada Alloh) terbatas pada nash-nash, tidak bisa di atur dengan berbagai macam kiyas dan pendapat. (Tafsir Ibnu katsir juz 4 halaman 258).

Untuk lebih hati-hatinya, kita memilih pendapat yang disepakati oleh keduanya yaitu mengamalkan apa yang terdapat di dalam hadits saja dalam hal tersebut. Adapun perkara yang diperselisihkan di kalangan ulama hendaknya kita berlapang dada dan tidak membuat barisan kaum muslimin bercerai berai. Saya nasihatkan bagi yang mengikuti pendapat sampainya pahala kepada mayit, hendaknya ia melakukannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam dalam melakukannya. Bukan dengan mengharap pujian dari manusia dan dengan tata cara baru yang tidak diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wasallam.

Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Iftah (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 2232, pertanyaan ketiga

Pertanyaan: Apakah pahala membaca Al Qur’an dan bentuk peribadahan lainnya sampai kepada mayit (orang yang sudah meninggal dunia), baik dari anak maupun selainnya?

Jawaban:

Tidak ada dalil -setahu kami- yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayit dari kerabat atau selainnya . Seandainya pahalanya memang sampai kepada kerabat atau orang lain yang sudah mati, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersemangat untuk melakukannya. Tentu pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini pada umatnya, supaya umatnya yang masih hidup memberi kemanfaatan kepada orang yang sudah mati. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang beriman sangat menaruh kasihan dan menyayangi mereka.

Para Khulafaur Rosyidin, orang-orang sesudah mereka dan sahabat lainnya – Shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang mengikuti petunjuk beliau tidaklah kami ketahui bahwa salah seorang dari mereka menghadiahkan pahala membaca Al Qur’an kepada selainnya.

Seutama-utama kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga petunjuk Khulafaur Rosyidin serta petunjuk sahabat radhiyallahu ‘anhum lainnya. Sejelek-jelek perkara adalah dengan mengikuti perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah).

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Oleh karena itu, tidaklah boleh membaca Al Qur’an untuk si mayit, pahala bacaan Al Qur’an ini juga tidak akan sampai kepada si mayit, bahkan perbuatan semacam ini termasuk bid’ah (yang tercela).

Adapun bentuk pendekatan diri pada Allah yang lainnya, jika terdapat dalil shohih yang menunjukkan sampainya pahala amalan tersebut kepada si mayit, maka wajib kita terima. Seperti sedekah yang diniatkan dari si mayit, do’a kepadanya, dan menghajikannya. Sedangkan amalan yang tidak ada dalil bahwa pahala amalan tersebut sampai pada si mayit, maka amalan tersebut tidaklah disyari’atkan sampai ditemukan dalil.

Oleh karena itu, -sekali lagi- tidak boleh membaca Al Qur’an dan pahalanya ditujukan kepada si mayit. Pahala bacaan tersebut tidak akan sampai kepadanya, menurut pendapat yang paling kuat. Bahkan perbuatan semacam ini termasuk bid’ah yang tercela.

Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada pengikut dan para sahabatnya.

Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Anggota : Abdullah bin Ghodyan

Wakil Ketua : Abdur Rozaq ‘Afifi                                Ketua : Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz


BAB: HADITS-HADITS TENTANG MENGUSAP MUKA SETELAH BERDO’A

حديث عمر : ” كان النبي ( صلى الله عليه وسلم ) إذا رفع يديه في الدعاء لا يحطهما حتى يمسح بهما وجهه ” . رواه الترمذي

“Dahulu nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam apabila mengangkat tangan dalam berdo’a tidak menurunkan kedua tangannya sampai beliau mengusapkannya pada wajahnya”. (HR. At-Tirmidzi)

Dalam hadits di atas terdapat perawi yang bernama Hammad bin Isa al-Juhany atau Syaikh sholih. Abu Hakim berkata ia adalah orang yang haditsnya lemah. Abu Dawud berkata: ia adalah orang yang haditsnya lemah dan sering meriwayatkan hadits yang mungkar. Demikian Ad-Daruquthny turut melemahkan haditsnya. Hadits yang lain:

حديث ابن عباس : “…. فإذا فرغت فامسح بها وجهك ) . رواه أبو داود وابن ماجه

Hadist Ibnu Abbas“….apabila selesai (berdo’a) usaplah wajah dengan tangan tersebut”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dalam hadits ini terdapat perawi yang bernama Sholih bin Hisan, ia adalah orang yang haditsnya mungkar sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Bukhori. An-Nasa’i berkata: ia adalah orang yang haditsnya ditinggalkan. (‘Irwa’ul Gholil’ 2/178-179). Hadits lainnya:

عن السائب بن يزيد عن أبيه : ان النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيديه

Dari as-Sa’ib bin Yazid dari bapaknya: Bahwa nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam dahulu apabila berdo’a, beliau mengangkat tangannya lalu mengusapkannya pada wajahnya”. (HR. Abu Dawud, Ahmad 4/221)

Dalam hadits ini terdapat perawi yang bernama Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah, ia adalah perawi yang majhul / tidak dikenal. Kemudian ada perawi yang bernama Ibnu Luhai’ah, ia adalah perawi yang hafalannya jelek. (‘Irwa’ul Gholil’ 2/178)

Hadits-hadits di atas memiliki cela yang amat sangat (sangat tercela), sehingga tidak bisa berubah menjadi hasan dengan banyaknya riwayat. Oleh karena itu hadits ini tidak boleh diamalkan serta disandarkan kepada nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam. Barangsiapa yang menyandarkan hadits dho’if sekali atau hadits palsu kepada nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam, maka ia telah berdutsa atas nama nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam. Ini bukan pendapat individu, melainkan berdasarkan hasil penelitian dari para ulama peneliti hadits. Barangsiapa yang tetap menganggap hadits ini sahih, saya harap ia dapat meunjukkan bukti secara ilmiah bukan karena taklid kepada perkataan seseorang meskipun ia seorang ulama.

MENGANGKAT TANGAN SAAT BERDOA SETELAH SELESAI SHALAT

Berikut fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,

“Semua doa yang terdapat pada zaman Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya, maka tidak disyariatkan bagi kita untuk mengangkat tangan demi mengikuti Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, seperti saat khutbah jum’at, khutbah hari raya, berdoa diantara 2 sujud, berdoa di akhir shalat dan setelah shalat. Karena semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, yang mana kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah baik yang beliau lakukan ataupun yang beliau tinggalkan” (Fatawa Islamiyah 3/174)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

“Tidak ada satupun sahabat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam apabila setelah selesai shalat lalu beliau berdoa bersama para sahabatnya, akan tetapi Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam hanya berdzikir kepada Allah, sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadits” (Majmu’ Fatawa 22/492)

Lalu kapankah mengangkat tangan atau tidak mengangkat tangan ketika berdoa ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Liqa’ Bab Maftuh hal. 17 dan 18 telah memberikan 3 panduannya sebagai berikut,

  1. Yang jelas ada sunnahnya dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, maka disunnahkan untuk mengangkat tangan saat berdoa. Misalnya doa istisqa’ (doa minta hujan), berdoa di atas bukit Shafa dan Marwa serta lainnya.
  2. Yang jelas tidak ada sunnahnya, maka tidak boleh mengangkat tangan. Seperti berdoa pada saat shalat dan pada tasyahud akhir.
  3. Yang tidak ada dalilnya secara langsung, apakah mengangkat tangan atau tidak, maka pada dasarnya, hukumnya adalah termasuk dalam adab berdoa yaitu mengangkat tangan.

Adapun hadits shahih yang menunjukkan disyariatkannya mengangkat tangan kedua tangan di dalam berdoa adalah hadits yang berasal dari sahabat Salman Al Farisi ra., Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya apabila mengangkat kedua tangan untuk berdoa lalu mengembalikannya dengan tangan hampa” (HR. Abu Dawud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 1753, lihat Shahihul Jami’ no. 1753)]